Laporan Dugaan Sodomi di Bekasi Ditolak Polisi, Ibu Korban Kebingungan Padahal Hasil Visum Positif

Laporan Dugaan Sodomi di Bekasi Ditolak Polisi, Ibu Korban Kebingungan Padahal Hasil Visum Positif

Ibu korban pelecehan anak di bawah umur-dimas rafi-radarpena.co.id Disway group

BEKASI, RADARPENA.CO.ID – Sebuah laporan dugaan pencabulan dengan modus sodomi yang menimpa seorang anak berinisial Y di Medan Satria, BEKASI, dilaporkan ditolak oleh Polres Metro BEKASI Kota.

Ibu korban, RW (33), mengungkapkan kebingungannya lantaran penolakan tersebut terjadi meskipun hasil visum menunjukkan adanya luka di dubur korban, menguatkan dugaan pelecehan seksual.

Insiden tragis ini bermula ketika RW, seorang pengemudi ojek online, dikejutkan oleh kabar dari anak sulungnya bahwa Y, sang buah hati, telah menjadi korban sodomi oleh rekannya berinisial C.

Mirisnya, terduga pelaku, C, juga masih berusia di bawah umur, yakni delapan tahun.

BACA JUGA:Cerita Horor Nyata! Bukan Sekadar Warisan, Teror Perewangan di Rumah Tua Nenek

"Tapi dari kepolisian tidak dibuatkan (LP) karena kasus itu masih di bawah umur dan untuk keterangan orang tuanya polisi menganggap itu hak mereka untuk mengakui jujur atau tidaknya, jadi semua orang punya hak untuk mengakui hal itu jujur atau tidak," ungkap RW dengan nada bingung di Bekasi pada Senin, 9 Juni 2025.

RW mengaku telah mengikuti semua prosedur yang diarahkan pihak kepolisian, termasuk melakukan visum segera setelah kejadian.

"Hari itu sesudah kejadian besokannya saya ke polres dan diminta untuk visum, hasilnya terbukti kalau adanya luka di duburnya dan adanya perlakuan pelecehan seksual itu," terangnya.

Namun, LP yang seharusnya menjadi langkah awal penanganan justru ditolak.

BACA JUGA:Raja Ampat Diduga Jadi Jalur Awal Pelayaran Manusia Modern ke Australia

Buntut Panjang Kasus Sodomi: Sembilan Korban Diduga Terlibat

Kasus ini semakin mengkhawatirkan dengan pengakuan RW yang menyebutkan bahwa terduga pelaku, Y, diduga telah melakukan pelecehan terhadap sembilan anak laki-laki lain yang juga berusia di bawah delapan tahun.

Kesembilan korban tersebut diduga merupakan siswa kelas dua Sekolah Dasar (SD) dan berasal dari wilayah di luar lingkungan tempat tinggal RW.

"Setahu saya korbannya ada empat awalnya, dan belum lama saya tahu korban sekarang ada sembilan, itu dari wilayah luar lingkungan saya," jelas RW. Pengakuan ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran yang mendalam akan keselamatan anak-anak di lingkungan tersebut.

Tanggapan Kapolres Metro Bekasi Kota

Menanggapi informasi penolakan laporan tersebut, Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Kusumo Wahyu Bintoro, saat dikonfirmasi, menyatakan bahwa kasus ini telah ditangani oleh pihaknya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait