Pacu Jalur Riau: Tradisi Dayung Sakral yang Kini Mendunia, Diusulkan Jadi Warisan Budaya UNESCO
Pacu Jalur Aura Farming-TikTok: @sahdilepas-
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID – Sorotan dunia kini tertuju ke Riau, tepatnya ke Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), yang menjadi tuan rumah salah satu tradisi budaya paling megah di Indonesia: Pacu Jalur.
Lebih dari sekadar perlombaan dayung, Pacu Jalur adalah warisan budaya Melayu yang kaya makna, menyatukan nilai-nilai sejarah, seni, dan kearifan lokal masyarakat pesisir sungai.
Ritual Sosial Masyarakat Riau
Menurut Dr. Zulfa Hanum, sejarawan kebudayaan dari Universitas Indonesia, tradisi ini sudah ada sejak zaman kerajaan Melayu dan bukan sekadar ajang adu cepat.
BACA JUGA:Viral Tren Aura Farming: Aksi Bocah Pacu Jalur Riau Ditiru Dunia, Ini Makna dan Budaya di Baliknya
"Pacu Jalur itu awalnya lahir dari budaya sungai. Dulu jalur adalah alat transportasi penting, kemudian menjadi simbol kekuatan antar-kampung dan identitas kolektif," jelasnya.
Setiap perahu panjang—yang disebut jalur—dipenuhi nilai spiritual. Ada ritual khusus sebelum perlombaan, mulai dari pemberian nama perahu, prosesi sakral, hingga penghormatan terhadap leluhur.
Warisan Budaya UNESCO
Tak heran jika kini Pacu Jalur diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Momentum ini disambut positif oleh para budayawan.
Prof. Dr. Wan Syaifuddin, Guru Besar Antropologi Budaya UI, menyatakan bahwa pengakuan internasional ini penting untuk memperkenalkan identitas budaya Melayu yang selama ini kurang terekspos secara global.
"Tradisi ini adalah paket lengkap—ada seni, musik, kepemimpinan, gotong-royong, dan spiritualitas. Inilah wajah asli Indonesia yang harus dikenal dunia," ujarnya.
BACA JUGA:Banjir Jakarta Meluas: 53 RT dan 4 Jalan Terendam Banjir, Warga Cawang Mengungsi
Keunikan Pacu Jalur tidak hanya terletak pada aksi mendayung yang penuh semangat, tapi juga pada estetika ukiran perahu, irama lagu pengiring, hingga kostum adat yang penuh warna.
Di balik kompetisi, tersimpan nilai musyawarah, persatuan, dan kepemimpinan yang ditunjukkan oleh tokoh sentral seperti tukang tari (juru kemudi).
Prof. Wan menyebut, ini adalah contoh tradisi yang bisa berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan ruh budaya asli.
"Modernisasi tidak merusak Pacu Jalur. Malah memperkuat eksistensinya di era global," tambahnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: