Kasus Mona Fandey: Antara Mistik, Politik, dan Pembunuhan Paling Mengerikan di Malaysia

Kasus Mona Fandey: Antara Mistik, Politik, dan Pembunuhan Paling Mengerikan di Malaysia

Mona Fandey, penyanyi gagal banting setir jadi dukun--Dimas Satriyo

Radarpena.disway.id, Jakarta - Pada awal 1990-an, Malaysia diguncang oleh sebuah kasus pembunuhan yang tak hanya menyeramkan, tetapi juga penuh dengan unsur mistik, politik, dan pengkhianatan. Pelakunya adalah seorang wanita bernama Mona Fandey, yang sebelumnya dikenal sebagai penyanyi gagal sebelum beralih profesi menjadi dukun pesohor. Kasus ini tidak hanya menjadi berita utama selama bertahun-tahun, tetapi juga mengubah sistem hukum negara.

 

Dari Penyanyi Gagal ke Dukun Kaya

Mona Fandey, nama asli Nur Maznah binti Ismail, lahir pada 1 Januari 1956 di Perlis, Malaysia. Ia sempat mencoba peruntungan di dunia tarik suara, bahkan merilis album berjudul Diana. Namun, karier musiknya tidak bertahan lama. Bersama suaminya, Mohamad Nor Affandi, Mona kemudian memilih jalan sebagai bomoh (sebutan lokal untuk dukun) yang melayani tokoh-tokoh penting termasuk para politisi.

Sebagai dukun, Mona mengklaim bisa memberikan kekayaan, kekuasaan, hingga karisma politik kepada kliennya melalui ritual magis. Mereka mengoleksi mobil mewah, rumah besar, dan barang-barang mewah lainnya—tanda bahwa praktik supranatural mereka sangat laku keras.

BACA JUGA:Kumpulan 10 Cerita Horor Berdasarkan Kisah Nyata dan Sejarah Kelam yang Tersembunyi

Ritual Berdarah: Korban Seorang Politikus

Korban Mona adalah Datuk Mazlan Idris, seorang politisi ambisius dari UMNO yang menjabat sebagai anggota dewan di Pahang. Pada Juli 1993, Mazlan mengunjungi Mona untuk menjalani ritual penggandaan kekayaan dan pengaruh politik. Ia menyerahkan uang sebesar RM 500.000 dan surat tanah senilai jutaan ringgit.

Dalam ritual yang dilakukan di rumah Mona di Raub, Mazlan diminta untuk berbaring dan menutup mata, diyakinkan bahwa "uang akan turun dari langit". Namun yang terjadi sebaliknya: asisten Mona, Juraimi Hassan, memenggal leher Mazlan dengan kapak. Tubuhnya dipotong menjadi 18 bagian dan dikubur secara brutal.

BACA JUGA:Cerita Horor: Kejadian Tak Terduga Saat Perobohan Rumah Angker Pondok Indah

Persidangan dan Eksekusi

Penemuan jasad Mazlan membuat publik terguncang. Mona, suaminya, dan Juraimi ditangkap dan diadili. Proses persidangan sangat menyita perhatian publik, terutama karena Mona sering terlihat tenang, tersenyum, bahkan berdandan mencolok selama persidangan.

Ketiganya akhirnya dijatuhi hukuman mati dan digantung pada 2 November 2001. Kata-kata terakhir Mona sebelum dieksekusi menjadi legenda:

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: