Potensi Ancaman Kenaikan Tarif AS bagi Indonesia, Industri ini Diragukan Bertahan

Potensi Ancaman Kenaikan Tarif AS bagi Indonesia, Industri ini Diragukan Bertahan

Ancaman Kenaikan Tarif AS bagi Indonesia--

Radarpena.co.id, Jakarta - BISNIS Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga melonjaknya tingkat kemiskinan adalah beberapa ancaman yang disebut ekonom berpotensi menghantam Indonesia, akibat pengenaan tarif resiprokal atau timbal balik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Pemerintah Indonesia pun menyadari dampak signifikan dari kebijakan Trump itu, terhadap daya saing ekspor Indonesia ke AS.

"Sejak awal tahun ini, pemerintah telah mempersiapkan berbagai strategi dan langkah untuk menghadapi penerapan tarif resiprokal AS dan melakukan negosiasi dengan Pemerintah AS," kata keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri Indonesia, Kamis (03/04).

 

Namun di balik ancaman itu, ekonom menyebut terdapat peluang yang bisa dimanfaatkan, yakni meniru siasat Vietnam, yang menjadi "pemenang" perang dagang jilid pertama Trump, antara AS dan China pada 2019 lalu.

Apalagi, catatan Kementerian Perdagangan RI menunjukkan AS adalah salah satu negara penyumbang surplus perdagangan nonmigas pada 2024 lalu. Kontribusi AS mencapai USD16,08 miliar dari total surplus perdagangan migas sebesar USD31,04 miliar.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan, ekspor mesin dan perlengkapan elektrik Indonesia ke AS pada 2024 mencapai USD4,1 miliar.

BACA JUGA:Rupiah Melemah Dekati Angka Rp17.000 Per Dolar Dampak Kenaikan Tarif Resiprokal Amerika

Kemudian, sektor padat karya seperti pakaian jadi dan tekstil juga diperkirakan Bhima akan semakin terpuruk.

"Sebagian besar brand internasional di Indonesia punya pasar besar di AS. Begitu kena tarif yang lebih tinggi, brand itu akan turunkan jumlah pemesanan ke pabrik Indonesia. Sementara di dalam negeri, kita bakal dibanjiri produk Vietnam, Kamboja dan China karena mereka incar pasar alternatif."

Tercatat ekspor produk pakaian dan aksesoris (rajutan) Indonesia ke AS berkontribusi hingga USD2,4 miliar. Sedangkan, produk pakaian dan aksesoris (bukan rajutan) mencapai USD2,1 miliar.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyebut separuh produk tekstil Indonesia diekspor ke Amerika.

 

Dia memandang, tarif yang lebih tinggi itu akan memperlemah penetrasi produk Indonesia ke AS.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: