Potensi Ancaman Kenaikan Tarif AS bagi Indonesia, Industri ini Diragukan Bertahan
Ancaman Kenaikan Tarif AS bagi Indonesia--
"Saat ini kondisi tekstil sedang berdarah-darah. Banyak industri yang sudah menutup pabriknya, menghentikan karyawannya, ada relokasi. Dengan tarif AS ini tentu semakin menekan tingkat penjualan dan juga profitabilitas industri ini," ujar Faisal.
BACA JUGA:Prabowo Ajak Anggota ASEAN Susun Strategi Hadapi Kenaikan Tarif Impor Amerika
Indonesia Bakal 'kebanjiran' barang impor
Tarif yang tinggi itu, menurut Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastraatmaja, akan membuat "penurunan demand dan oversupply pakaian jadi makin besar lagi. Terutama bagi negara produsen pakaian jadi, seperti China, Bangladesh dan Vietnam."
Sudah sulit ekspor, Jemmy khawatir, Indonesia akan menjadi tujuan dari negara-negara yang kelebihan pasokan tekstil akibat perang tarif itu.
Padahal, katanya, pasar dalam negeri menjadi salah satu tumpuan industri tekstil Indonesia saat pasar dunia bergejolak.
"Kelebihan produksi ini jangan sampai membanjiri market Indonesia yang sudah banjir barang impor, yang makin membuat Industri dan IKM [industri kecil-menengah] dalam negeri tertekan," kata Jemmy.
BACA JUGA:Kenaikan Tarif Dagang Trump hingga 32 Persen, INDEF Soroti Hal Ini
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani melihat industri berorientasi ekspor yang saat ini kondisinya rentan dan memiliki permintaan yang besar dari pasar AS kemungkinan akan lebih sulit bertahan dalam kondisi ini.
"Dalam perkiraan sementara kami, sektor garmen, sepatu, karet, perikanan, dan furnitur akan sangat terdampak karena share ekspornya yang besar ke AS dan kondisi industrinya masing-masing yang memiliki korelasi supply chain dengan UMKM atau karena kurangnya fleksibilitas untuk menciptakan diversifikasi ekspor secara segera," kata CEO Sintesa Group ini.(*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: