Debt Collector Ngaku Salah Usai Prank Damkar, Polisi Dalami Modus Pinjol yang Bikin Heboh

Debt Collector Ngaku Salah Usai Prank Damkar, Polisi Dalami Modus Pinjol yang Bikin Heboh

Fernando, Pelaku Debt Collector yang order fiktif Damkar Kota Semarang - Tangkapan layar - --

Radarpena.co.id - Kasus dugaan penyalahgunaan layanan darurat untuk menagih utang pinjaman online memasuki babak baru. Setelah menggegerkan publik karena menyeret ambulans dan petugas pemadam kebakaran, sosok debt collector bernama Fernando akhirnya buka suara dan menyampaikan permintaan maaf terbuka. Namun, di balik permintaan maaf itu, polisi justru terus mendalami dugaan modus baru penagihan pinjol yang dinilai makin berbahaya.

Kasus ini menyita perhatian karena bukan sekadar teror penagihan biasa. Dugaan penggunaan layanan publik untuk menekan debitur dinilai mengubah pola penagihan ke level yang lebih agresif. Di tengah sorotan publik, pengakuan Fernando justru memunculkan pertanyaan baru: apakah ini aksi emosional individu, atau bagian dari pola yang lebih terorganisasi?

Fernando Akui Laporan Palsu ke Damkar

Fernando mengakui dirinya membuat laporan palsu ke tim Damkar Semarang karena terbawa emosi terkait persoalan utang pribadi dengan seseorang bernama Ngadi.

Dalam video klarifikasi yang beredar, ia membenarkan tindakan tersebut dan menyatakan penyesalan mendalam karena aksinya merugikan petugas damkar serta pihak yang menjadi sasaran penagihan.

“Saya sangat menyesal apa yang sudah saya perbuat… saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada tim Damkar Kota Semarang dan Bapak Ngadi. Saya siap menerima konsekuensinya,” ujar Fernando dalam pernyataannya.

Ia juga berjanji tidak mengulangi tindakan serupa. Pengakuan ini langsung menjadi sorotan, sebab sebelumnya kasus serupa di Sleman juga mengarah pada dugaan penggunaan laporan fiktif untuk menekan debitur pinjol.

Damkar Semarang Buka Pintu Klarifikasi, Tunggu 2x24 Jam

Respons menarik datang dari Sekretaris Damkar Kota Semarang Ade Bhakti Ariawan. Alih-alih langsung menutup ruang dialog, Damkar justru memberi kesempatan Fernando datang langsung menemui petugas dan masyarakat yang terdampak.

Ade menyebut video permintaan maaf itu sebagai bentuk kedewasaan. Namun, komitmen Damkar untuk meminta pertanggungjawaban tetap tidak berubah.

“Kami tunggu 2x24 jam… datang langsung ke kantor Damkar, bertemu dengan kami dan masyarakat sekitar kejadian yang sudah direpotkan,” kata Ade.

Pernyataan itu mempertegas bahwa persoalan ini bukan semata soal permintaan maaf, tetapi juga tanggung jawab atas penyalahgunaan layanan darurat yang seharusnya dipakai untuk situasi penyelamatan nyata.

Kasus Sleman Bongkar Modus Penagihan yang Bikin Resah

Sorotan terhadap kasus ini makin besar setelah Polresta Sleman menyelidiki dugaan modus serupa yang melibatkan ambulans dan damkar untuk penagihan pinjaman online.

Kapolresta Sleman Kombes Pol Adhitya Panji Anom mengungkap nomor telepon yang digunakan pelaku bahkan terdeteksi berada di Sumatra Utara. Fakta ini membuka dugaan adanya pola lebih luas, bukan kejadian tunggal.

Salah satu temuan awal ialah laporan fiktif evakuasi ular di Caturtunggal, Depok, Sleman. Petugas damkar sempat meluncur ke lokasi, tetapi laporan itu ternyata palsu.

Tidak hanya itu, ambulans juga diduga dijebak lewat permintaan penjemputan pasien yang ternyata sudah tidak tinggal di alamat tersebut selama tiga tahun. Saat dihubungi ulang, penelepon justru mengaku dari pinjol dan meminta petugas membantu menagih utang.

Modus Pinjol Diduga Naik Level

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: