Tradisi Melayu Pontianak, Upacara Tepung Tawar Sebagai Proses Pensucian Diri Warisan Budaya yang Tetap Lestari

Tradisi Melayu Pontianak, Upacara Tepung Tawar Sebagai Proses Pensucian Diri Warisan Budaya yang Tetap Lestari

Tradisi melayu Pontianak yang masih terjaga hingga kini--pontianakinfo

BACA JUGA:5 Street Food Legendaris di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kulineran Malammu, Ramai dan Murah!

Ketupat lemak melambangkan kesucian dan kebersamaan dalam momen Idulfitri.

Bubur pedas mencerminkan semangat gotong royong karena biasanya dimasak bersama-sama.

Sementara kue bingke, yang manis dan lembut, menjadi simbol keramahan dan kehangatan masyarakat Pontianak.

Pemerintah Kota Pontianak terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan budaya Melayu melalui berbagai agenda tahunan, seperti Festival Budaya Melayu, Pekan Seni Daerah, dan Pameran Warisan Budaya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga wadah edukasi bagi generasi muda untuk mengenal akar budaya leluhurnya.

BACA JUGA:Lokasi Wisata Kuliner Malam Pontianak, Surga Rasa di Kota Khatulistiwa, Jangan Sampai Terlewat

Berbagai komunitas seni dan kelompok pemuda pun ikut aktif menggelar pertunjukan, lomba pantun, hingga pelatihan tari tradisional.

Dukungan lintas generasi inilah yang membuat tradisi Melayu Pontianak tetap eksis dan adaptif di tengah kemajuan zaman.

Meski modernisasi membawa banyak perubahan, masyarakat Pontianak membuktikan bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi.

Justru, nilai-nilai luhur budaya Melayu menjadi pondasi moral yang menguatkan karakter kota ini.

Dengan semangat pelestarian yang terus dijaga, tradisi Melayu Pontianak akan tetap menjadi warisan budaya yang hidup — menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam harmoni yang indah di tepian Sungai Kapuas.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: