Meluncur 2015 dan Kini Populer, HOK Adakan Final Turnamen

Meluncur 2015 dan Kini Populer, HOK Adakan Final Turnamen

--

Radarpena.co.id - Tekno Saat puncak musim panas pada Juli, Changchun di Provinsi Jilin, China timur laut, menggelar sebuah perhelatan budaya dan olahraga berskala besar bagi kaum muda.

Baru-baru ini, babak final Turnamen Nasional Honor of Kings ke-13 dan Karnaval Esports Kota Changchun diselenggarakan di Changchun International Aviation Expo City. Perhelatan ini menandai pertama kalinya ajang e-sport domestik papan atas yang terbuka untuk umum diadakan di China timur laut.

Honor of Kings (HOK) merupakan game seluler bergenre Arena Pertarungan Daring Multipemain (Multiplayer Online Battle Arena/MOBA) yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan game asal China dan diluncurkan pada 2015.

Berdasarkan data resmi, jumlah pengguna aktif harian gim tersebut di China tembus 139 juta pada 2025, sementara pengguna aktif bulanan secara global akan melampaui 260 juta, menjadikannya sebuah kekayaan intelektual (intellectual property/IP) digital dengan pengaruh global yang signifikan.

Khususnya di pasar Asia Tenggara seperti Indonesia, HOK meraih popularitas luar biasa di kalangan kaum muda, dengan puncak jumlah penonton turnamen internasional terkait yang terus meningkat, menunjukkan potensi pasar yang sangat besar.

 

Dalam turnamen yang berlangsung selama tiga hari itu, venue tersebut menjadi lokasi penyelenggaraan secara beruntun bagi Professional Division Finals, Women's Open Finals, dan Guest Invitational.

 

Selain itu, berbagai aktivitas di luar arena, seperti "Rift Party" yang dimeriahkan dengan tarian, parade anime, dan pasar trendi, menarik wisatawan dari berbagai penjuru untuk berkunjung dan menikmati kemeriahan acara tersebut.

Pertumbuhan industri yang terus berlanjut itu tidak hanya mencerminkan besarnya potensi ekonomi e-sport, tetapi juga menjadi landasan bagi integrasi lintas sektor. Sejalan dengan perkembangan tersebut, pemerintah China semakin mempercepat penerapan berbagai kebijakan untuk memperdalam integrasi sektor budaya, perdagangan, olahraga, dan pariwisata.

Dalam beberapa tahun terakhir, dengan memanfaatkan sumber daya talenta dari sejumlah perguruan tinggi seperti Jilin Animation College dan Jilin Academy of Arts, Provinsi Jilin, dengan Changchun sebagai pusatnya, menghimpun hampir 200 perusahaan yang bergerak di bidang animasi dan gim, sehingga ekosistem industri tersebut mulai terbentuk. Di balik kesuksesan film animasi "Ne Zha: The Demon Boy's Rampage in the Sea", yang memecahkan rekor pendapatan box office film animasi di tingkat global, terdapat kontribusi sebuah perusahaan desain animasi yang berbasis di Changchun.

Saat ini, e-sport kian menjadi bahasa universal sekaligus jembatan pertukaran budaya di kalangan generasi muda. Yue Jiaming, (19), mahasiswa dari Changchun University of Technology, juga menjadi sukarelawan dalam turnamen tersebut. Sepanjang penyelenggaraan ajang itu, dia berulang kali memperkenalkan berbagai perubahan yang terjadi di Changchun kepada para pengunjung muda dari berbagai daerah, dengan penuh rasa bangga.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: