TERBONGKAR! Kompleks Perusahaan Scam Love di Kamboja Berpagar 5 Meter, Dua WNI Diduga Ditembak Mati!

TERBONGKAR! Kompleks Perusahaan Scam Love di Kamboja Berpagar 5 Meter, Dua WNI Diduga Ditembak Mati!

Kedutaan Besar RI (KBRI) Phnom Penh mendampingi 107 WNI yang ditangkap oleh Kepolisian Kamboja terkait kasus penipuan daring (online scam) di Phnom Penh, Kamboja. ANTARA/HO-KBRI Phnom Penh/aa. (Handout KBRI Phnom Penh)--

RADARPENA.CO.ID - Pengakuan mengejutkan datang dari Andri Budi Sanjaya, warga Jambi yang menjadi korban penipuan lowongan kerja (loker scam) di Kamboja.

Ia membeberkan kondisi perusahaan tempatnya pernah bekerja—sebuah kompleks tertutup dengan pengamanan super ketat yang diduga menjadi pusat praktik scam love atau penipuan berkedok asmara.

Menurut Andri, perusahaan tersebut berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 1,2 hektare dan memiliki sekitar 20 gedung. Bangunannya menyerupai deretan ruko empat lantai yang saling berdekatan.

“Lahannya luas, mungkin sekitar 1,2 hektare, ada sekitar 20 gedung. Dikelilingi pagar tinggi,” ungkap Andri.

Berpagar 5 Meter dan Dijaga 100 Orang

Yang membuatnya semakin mencekam, kompleks tersebut dikelilingi pagar setinggi sekitar lima meter. Tak hanya itu, area perusahaan dijaga oleh 70 hingga 100 orang penjaga setiap harinya.

Para penjaga disebut dilengkapi alat setrum, sehingga nyaris mustahil bagi pekerja untuk melarikan diri tanpa ketahuan. Akses keluar-masuk sangat dibatasi dan diawasi ketat.

“Pekerja hanya bisa bergerak di sekitar kompleks gedung. Semua akses dijaga,” ujar Andri.

Kondisi ini membuat para pekerja, termasuk WNI yang menjadi korban loker scam, seperti terkurung di dalam area tertutup tanpa kebebasan.

BACA JUGA:Peran Emosional Vino G Bastian di Film ‘Tanah Runtuh’ Jadi Sorotan

Dua Pekerja Ditembak Mati

Andri mengungkapkan bahwa melarikan diri atau melapor ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) bukan perkara mudah. Bahkan, upaya tersebut bisa berujung fatal jika diketahui pihak perusahaan.

Ia mengaku pernah menyaksikan dua orang ditembak mati di hadapannya. Selain itu, ada korban yang meninggal karena tekanan kerja berat, bunuh diri dengan melompat dari gedung, hingga dugaan pembunuhan oleh pihak perusahaan.

Menurut Andri, pekerja perempuan yang tidak mencapai target juga berisiko mengalami kekerasan seksual. Target kerja yang tinggi dan tekanan psikologis membuat banyak korban berada dalam kondisi mental yang tertekan.

Kasus WNI Jatuh dari Lantai 18

Andri turut membenarkan kabar meninggalnya seorang WNI asal Palembang, Muhammad Erlangga, yang terjatuh dari lantai 18 Gedung Royal Fortune di Kamboja pada Selasa (17/2/2026). Informasi tersebut ia dapat dari rekan-rekannya sesama korban.

Gedung Royal Fortune disebut sebagai salah satu lokasi yang diduga terkait aktivitas perusahaan scam.

Lebih mengejutkan lagi, Andri menyebut ada dugaan sejumlah jenazah korban dibuang ke Sungai Mekong. Sungai tersebut diketahui melintasi enam negara, yakni Tiongkok, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, dan Vietnam.

Hingga kini, Andri mengaku belum mendapat kabar mengenai seorang korban asal Jambi lainnya, Audy Lyliana Putri. Ia juga belum memperoleh informasi pasti terkait jadwal kepulangan para WNI yang saat ini berada di pengungsian.

Ramadan di Pengungsian

Di tengah situasi sulit, para korban tetap berusaha menjalankan ibadah Ramadan. Andri membagikan video suasana salat tarawih pada Jumat (20/2/2026), memperlihatkan sejumlah pengungsi beribadah sementara lainnya beristirahat.

Koper-koper mereka tampak tersusun rapi di area penampungan, menjadi simbol harapan untuk segera pulang ke Indonesia.

Momen sahur pun dijalani bersama. Dalam video yang dibagikan, terlihat para korban duduk melingkar menikmati makanan sederhana.

“Kami sahur dengan uang sumbangan dan donasi yang dikumpulkan. Ada dari KBRI, ada dari pemerintah juga, dan dari teman-teman di sini,” kata Andri.

Bantuan Logistik dari KBRI

BACA JUGA:Trump Umumkan Tarif Impor Global 10 Persen Usai Mahkama Agung AS Batalkan Kebijakan Lama

Para korban juga menerima bantuan logistik dari KBRI Phnom Penh berupa sabun dan obat-obatan. Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah kardus diturunkan dari kendaraan KBRI dan dibagikan kepada para pengungsi.

Selain itu, bantuan makanan berbuka puasa juga telah disalurkan. Foto yang dibagikan menunjukkan nasi dan ikan goreng dalam wadah plastik sekali pakai sebagai menu berbuka.

Bantuan tersebut menjadi penyemangat bagi para korban yang masih menanti kepastian pemulangan ke Tanah Air.

Kasus yang dialami Andri Budi Sanjaya kembali membuka mata publik tentang maraknya praktik loker scam yang menjanjikan pekerjaan bergaji besar di luar negeri, namun berujung pada eksploitasi dan penahanan.

Modus scam love yang dijalankan perusahaan-perusahaan ilegal ini biasanya menyasar korban dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Para pekerja dipaksa menipu korban lain melalui media sosial dan aplikasi pesan instan dengan skema asmara palsu.

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran kerja ke luar negeri yang tidak jelas legalitasnya.

Pemerintah juga diharapkan memperkuat pengawasan dan edukasi agar tidak semakin banyak WNI terjebak jaringan kejahatan lintas negara.

 

Hingga kini, para korban masih berharap bisa segera dipulangkan dengan selamat. Di tengah Ramadan yang penuh harap, mereka hanya ingin satu hal: kembali ke rumah dan memulai hidup baru tanpa bayang-bayang trauma.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: