Meikarta Bakal Disulap Total! Gubernur Dedi Mulyadi Setuju Jadi Apartemen Subsidi, Ini Alasannya
Meikarta-ilustrasi-
RADARPENA.CO.ID - Rencana menyulap kawasan Meikarta di Kabupaten Bekasi menjadi apartemen bersubsidi resmi mendapat dukungan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Gagasan ini sebelumnya dilontarkan oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, sebagai solusi penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tanpa memperparah risiko lingkungan.
Dedi menilai, Jawa Barat tidak boleh lagi mengulang kesalahan lama dalam pembangunan perumahan, khususnya dengan membangun hunian tapak di wilayah yang secara ekologis rawan banjir.
Menurutnya, pendekatan lama justru memperparah kerusakan lingkungan dan mengancam keselamatan warga.
“Tidak boleh lagi areal-areal yang berpotensi banjir dibangun sebagai kawasan perumahan. Maka solusinya harus dipikirkan apartemen atau rumah vertikal,” ujar Dedi, Jumat 23 Januari 2026.
Dedi Mulyadi menyebut konsep hunian vertikal sebagai jalan tengah antara kebutuhan rumah rakyat dan upaya menjaga keseimbangan lingkungan.
Ia sepakat dengan rencana menjadikan Meikarta sebagai kawasan apartemen subsidi untuk MBR karena kawasan tersebut secara fisik sudah terbangun dan memiliki infrastruktur memadai.
BACA JUGA:Banyak yang Gak Sadar! Masuk Jalur Busway Bisa Kena Tilang Mahal, Segini Dendanya
“Menteri Perumahan menyampaikan bahwa Meikarta akan dijadikan sebagai kawasan rumah vertikal untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Ini harapan baru,” katanya.
Saat ini, di kawasan Meikarta sudah berdiri sejumlah menara apartemen yang siap dimanfaatkan. Jalan-jalan lebar dan fasilitas dasar juga telah tersedia, sehingga pembangunan tidak perlu lagi membuka lahan baru yang berpotensi merusak lingkungan.
Dari lahan sekitar 20 hektare, kawasan Meikarta diproyeksikan mampu menampung sekitar 94.000 hingga 100.000 unit apartemen.
Dengan asumsi satu unit dihuni tiga orang, kawasan ini dapat menampung ratusan ribu penduduk tanpa perlu ekspansi perumahan tapak.
Dedi menilai langkah ini sangat strategis karena bisa menyelamatkan lahan pertanian dan ruang terbuka hijau yang selama ini tergerus alih fungsi.
“Bayangkan kalau Meikarta bisa menampung 100.000 orang, maka kita barangkali bisa menyelamatkan hampir 50.000 hektare sawah,” ungkapnya.
Menurutnya, pembangunan rumah vertikal berskala besar seperti ini jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan membuka kawasan perumahan baru di pinggiran kota atau daerah resapan air.
Meski mendukung penuh proyek Meikarta, Dedi menegaskan bahwa kebijakan hunian vertikal untuk MBR tidak boleh berhenti di Kabupaten Bekasi saja. Kota-kota besar lain di Jawa Barat, terutama Bandung, juga harus mulai memikirkan konsep serupa.
“Setelah itu, berarti kan di Bandung nanti di mana? Harus kita ciptakan juga rumah vertikal di Bandung,” ujarnya.
Ia menilai tekanan urbanisasi di wilayah perkotaan Jawa Barat terus meningkat, sementara ketersediaan lahan semakin terbatas. Tanpa perubahan pola pembangunan, risiko banjir, kemacetan, dan degradasi lingkungan akan semakin besar.
Rencana menjadikan Meikarta sebagai apartemen subsidi dinilai sejalan dengan kebutuhan nasional akan hunian layak bagi MBR, sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Konsep ini juga dinilai mampu mengoreksi kesalahan masa lalu, ketika pembangunan perumahan sering mengabaikan daya dukung lingkungan.
BACA JUGA:Prediksi & Jadwal Arsenal vs MU: Akankah 'Carrick Effect' Hancurkan Mimpi Juara The Gunners?
Dedi berharap, kebijakan ini bisa menjadi contoh nasional bahwa penyediaan rumah rakyat tidak harus mengorbankan sawah, daerah resapan air, dan keseimbangan ekologi.
“Pembangunan harus memberi solusi, bukan menambah masalah. Rumah rakyat tetap jalan, tapi lingkungan juga harus diselamatkan,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: