Kisah Tarjomen: Mantan Punggawa TV Nasional yang Kini Jadi Raja Bubur Premium Bekasi
Tarjomen, tukang bubur naik kelas yang semula adalah awak media TV Nasional - Dok Pribadi - --
Radarpena.co.id - Siapa sangka di balik gerobak bajaj modern yang ikonik di Mutiara Gading City, ada tangan dingin seorang mantan praktisi media broadcast? Arief Siswanto, atau yang lebih populer dengan julukan "Tarjomen", sukses membalikkan keadaan. Dari stres tingkat tinggi di industri televisi hingga kencing darah, kini ia merajai bisnis kuliner lokal melalui brand Bubur Segara.
Perjalanan karir Arief memang sangat kontras. Dulu, ia adalah sosok vital di balik layar TV One dan MNC Group. Nama "Tarjomen" bahkan melekat sebagai gelar "superhero" karena kepiawaiannya mengawal siaran langsung tanpa cela. Namun, konflik internal dan kekecewaan di tempat kerja memaksa Arief mencari jalan baru yang justru berawal dari sebuah aksi kemanusiaan di masa pandemi.
Berawal dari Sedekah Isoman, Berujung Bisnis Cuan
Kisah sukses Bubur Segara bukan dimulai dari modal besar, melainkan dari panci kecil di dapur rumah. Saat Covid-19 mengamuk pada Juni 2020, Arief iseng membagikan bubur buatannya kepada tetangga yang sedang isolasi mandiri (isoman). Responnya di luar dugaan; tetangga justru ketagihan dan mulai melakukan pemesanan rutin berbayar.
Arief melihat peluang emas ini sebagai sinyal untuk berdagang secara totalitas. Menariknya, resep bubur miliknya mengusung konsep premium ala hotel namun tanpa tambahan micin. Ia menggunakan kaldu murni dari rebusan dada ayam untuk menciptakan rasa gurih yang sehat. Strategi ini terbukti ampuh menarik minat konsumen yang mendambakan makanan berkualitas dengan harga terjangkau.
Strategi "Modal Bekas" dan Filosofi Tukang Bubur Naik Kelas
Banyak pengusaha pemula takut melangkah karena modal, tapi Tarjomen punya cara unik. Ia membangun cabang keduanya di Mutiara Gading City dengan mencicil peralatan bekas dari marketplace. Mulai dari tenda, kursi, hingga gerobak, semuanya barang second-hand demi menekan biaya pengeluaran (cost). Hanya peralatan makan dan dandang yang ia pastikan baru demi menjaga sterilitas.
Filosofi "Tukang Bubur Naik Kelas" yang ia usung bukan sekadar slogan. Arief ingin mendobrak stigma bahwa bubur pinggir jalan tidak bisa tampil mewah. Penggunaan bajaj yang dimodifikasi modern menjadi bukti nyata transformasi digital dan inovasi dalam bisnis kulinernya. Hasilnya fantastis, kini Arief mengelola tiga cabang dengan omzet mencapai 300 porsi per hari, meningkat sepuluh kali lipat dari awal merintis.
Merdeka Waktu dan Sehat Jasmani: Kehidupan Baru Sang "Tarjomen"
Keberanian Arief untuk resign dari posisi manajerial di perusahaan besar membawa berkah tersendiri. Dulu, ia menderita penyakit ginjal akibat tekanan kerja yang luar biasa. Sekarang, ia mengaku jauh lebih sehat secara pikiran dan fisik. Kemandirian finansial ini juga memberinya "kemerdekaan waktu" untuk memantau perkembangan anak-anaknya secara langsung.
Meski sempat dipandang sebelah mata oleh lingkungan dan keluarga, Arief membuktikan bahwa ketekunan tidak akan mengkhianati hasil. Kini, ketiga cabangnya yang berlokasi di Segara City, Mutiara Gading City, dan Pondok Ungu Permai menjadi saksi bisu perjuangan seorang awak media yang sukses meniti karir dari nol sebagai pengusaha kuliner sukses. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: