Daftar Identitas Jenazah Korban Kebakaran Panti Wreda Damai Manado dan Kisah Pilu Para Korban

Daftar Identitas Jenazah Korban Kebakaran Panti Wreda Damai Manado dan Kisah Pilu Para Korban

Jenazah Korban Kebakaran panti Jompo Manado --ist

MANADO, RADARPENA.CO.ID - Asap hitam kebakaran hebat di Panti Wreda Damai, Ranomuut, memang telah padam. Namun, di balik puing-puing yang menghitam, sebuah tragedi kemanusiaan yang lebih memilukan baru saja terungkap.

Di balik angka 16 korban jiwa, terselip kisah-kisah kesepian para lansia yang menghabiskan napas terakhir dalam keterasingan.

Hingga Selasa (30/12/2025), Polda Sulawesi Utara melalui RS Bhayangkara baru berhasil mengidentifikasi lima jenazah. Namun, bukannya semua berakhir dengan damai, proses ini justru membuka luka lama dan konflik keluarga yang mengejutkan.

BACA JUGA:Begini Kondisi 16 Jenazah Lansia Korban Kebakaran Panti Jompo Manado

Ironi Jenazah Terakhir: Dicampakkan Saat Hidup, Diperebutkan Saat Tiada

Sebuah drama memilukan terjadi pada satu jenazah yang identitasnya telah terdeteksi namun urung diumumkan. Ironisnya, jenazah ini kini menjadi objek sengketa dua pihak keluarga. Bukan karena rasa kehilangan yang mendalam, klaim ini disinyalir berkaitan dengan persoalan hak waris yang ditinggalkan korban.

"Kami akan memfasilitasi pertemuan keluarga untuk mencari solusi terbaik," ujar Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol. Alamsyah Parulian Hasibuan. Pemandangan ini kontras dengan kondisi panti wreda yang seharusnya menjadi tempat ketenangan di masa tua.

Kisah Pilu Olli Clara Kemur: Menanti Pulang yang Tak Pernah Datang

Olli Clara Kemur (85) adalah potret harapan yang kandas. Ia sejatinya hanya "menumpang" sementara di panti karena rumah anaknya sedang direnovasi. Sang anak hanya ingin ibunya aman dari debu konstruksi.

BACA JUGA:Kebakaran Panti Werdha Damai Masih Berlangsung, Polda Sulut Identifikasi 16 Korban Tewas

Namun, takdir menuliskan skenario yang kejam. Baru sebulan di panti, anak tunggalnya justru meninggal mendadak karena serangan jantung. Clara yang tak tahu apa-apa, hidup sebatang kara di panti hingga si jago merah menjemputnya selamanya. Ia tak pernah tahu bahwa rumah yang direnovasi untuknya tak akan pernah ia huni lagi.

Herry Lombogia: Diusir Keluarga, Dijemput Cucu Sambung

Kisah Herry Lombogia (70) tak kalah menyayat hati. Akibat ganjalan masa lalu, keluarga besarnya menutup pintu rapat-rapat baginya. Herry sempat hidup terlunta-lunta di gereja sebelum akhirnya "dibuang" ke panti wreda karena sakit-sakitan.

Saat maut menjemput, tak ada satu pun saudara kandung yang datang. Adalah Kevin Supit (24), seorang cucu sambung yang tak memiliki ikatan darah langsung, yang datang menjemput jenazahnya dengan air mata. "Tante dan paman tidak ada yang mau menerima Opa," ucap Kevin lirih.

BACA JUGA:Operasi Senyap Densus 88: Gagalkan Ancaman Teror Jelang Malam Pergantian Tahun, 7 Pelaku Ditangkap

Daftar Korban yang Telah Teridentifikasi:

  • Herry Lombogia (70): Warga Winangun, Malalayang.
  • Jansen H. Maringka (65): Warga Ranotana, Sario.
  • Olli Clara Kemur (85): Warga Ranomuut, Paal Dua.
  • Merry Bermuli Dengah (83): Warga Ranomuut, Paal Dua.

Refleksi: Senja yang Terbakar

Tragedi Panti Wreda Damai adalah alarm keras bagi kita semua. Ini bukan sekadar tentang korsleting listrik atau kelalaian bangunan, melainkan tentang bagaimana kita memperlakukan orang tua di masa senjanya. Banyak dari mereka yang tewas malam itu bukan hanya terbakar api, tapi sudah lama "mati" karena kesepian dan penolakan keluarga.

Manado berduka, bukan hanya karena kehilangan warganya, tapi karena menyaksikan bagaimana hari tua bisa berubah menjadi babak paling sunyi dalam hidup manusia.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: