Heboh Tayangan Trans7 Dianggap Hina Kiai dan Ponpes, Warganet Serukan Boikot dan Kecaman

Heboh Tayangan Trans7 Dianggap Hina Kiai dan Ponpes, Warganet Serukan Boikot dan Kecaman

Trans7 hina kiai dan pondok pesantren-tangkapan layar-

“Tapi itu fakta enggak? Soal ngasih amplop, hidup bermewah-mewahan, hormat yang terlalu berlebihan?” cuit seorang warganet.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Radarpena (@radarpena.co.id)

DPR RI dan PKB Kecam Keras Tayangan Xpose

Menanggapi polemik tersebut, Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB, Oleh Soleh, menyebut tayangan itu telah melecehkan martabat kiai dan pesantren, serta mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk bertindak tegas.

“KPI tidak boleh tinggal diam. Hentikan programnya dan audit total TRANS7,” tegasnya.

Senada, Anggota Komisi XIII DPR RI dari PKB, Mafirion, menilai tayangan tersebut tidak hanya mencederai nilai keagamaan, tetapi juga melanggar hak asasi manusia (HAM) sesuai UU No. 39 Tahun 1999.

“Merendahkan seorang kiai berarti juga merendahkan nilai-nilai moral, keagamaan, dan identitas komunitas santri,” ujar Mafirion.

Ia menilai program tersebut telah menyulut keresahan sosial, dan meminta KPI serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk mengambil langkah tegas dan evaluasi menyeluruh.

TRANS7 Sampaikan Permintaan Maaf Resmi

Menanggapi kritik publik dan desakan dari berbagai pihak, TRANS7 akhirnya angkat suara. Production Director TRANS7, Andi Chairil, menyampaikan permohonan maaf resmi kepada keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo.

“Kami ingin menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya kepada pimpinan, pengasuh, para santri dan alumni Pondok Pesantren Lirboyo,” kata Andi dalam pernyataan di YouTube TRANS7 Official, Selasa (14/10/2025).

BACA JUGA:Viral! Pasangan Asal Lampung Hina Suku Jawa, Netizen Geram

Andi mengakui adanya kelalaian internal dalam proses produksi dan kurangnya sensor terhadap narasi konten yang ditayangkan.

Ia juga memastikan bahwa permohonan maaf telah dikirim secara pribadi kepada Gus Adib, putra KH Anwar Manshur.

Evaluasi dan Refleksi untuk Dunia Penyiaran

Insiden ini kembali mengingatkan publik tentang pentingnya etika jurnalistik dan tanggung jawab media dalam menyajikan informasi, terutama yang menyangkut nilai-nilai keagamaan dan sosial yang sensitif.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: