Viral Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Berisi QR Code Judi Online, Gegerkan Dunia Pendidikan
Tangkapan layar video Buku Pelajaran Bahasa Indonesia berisi QR judi online --
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID – Polemik judi online kembali mengguncang publik, kali ini dengan cara yang lebih mencengangkan dan mengkhawatirkan: menyusup ke dalam buku pelajaran sekolah.
Sebuah buku Bahasa Indonesia untuk kelas 12 terbitan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) tahun 2022 viral setelah ditemukan memuat QR code yang mengarah ke situs judi online.
Temuan mengejutkan ini pertama kali diungkap akun TikTok @dhayo_zzz, yang mengunggah video proses pemindaian QR code dari halaman buku tersebut.
Alih-alih menampilkan materi edukatif, tautan tersebut justru membuka laman promosi perjudian digital—sesuatu yang sama sekali tidak pantas, apalagi dalam konteks dunia pendidikan.
BACA JUGA:Pemberian Amnesti dan Abolisi untuk Hasto dan Tom Lembong Melemahkan Pemberantasan Korupsi
Video ini kemudian menyebar luas ke platform X (dulu Twitter) dan Instagram, memantik gelombang kemarahan publik. Warganet mempertanyakan bagaimana konten seberbahaya itu bisa lolos dari proses kurasi dan validasi yang seharusnya ketat.
“Anak-anak mau belajar malah dikasih pintu masuk ke judi online. Ini bukan sekadar kelalaian, ini kegagalan negara melindungi generasi mudanya,” tulis salah satu netizen yang mendapat banyak dukungan.
Kemdikbud Masih Bungkam
Hingga laporan ini diturunkan, pihak Kementerian Pendidikan belum memberikan klarifikasi resmi. Padahal, buku ajar yang diterbitkan pemerintah seharusnya telah melalui pengawasan dan kontrol mutu berlapis.
Kasus ini menunjukkan adanya celah serius dalam sistem keamanan digital pendidikan Indonesia. QR code yang semestinya menjadi sarana pembelajaran interaktif, justru berubah menjadi “pintu belakang” menuju praktik ilegal yang merusak moral anak bangsa.
BACA JUGA:Peringatan 4 Agustus 2025, Mulai dari Hari Macan Dahan hingga Perjuangan Kemerdekaan
“Pengawasan digitalnya Kemdikbud ini di mana sih? Jangan cuma update kurikulum, tapi sistem pengamanannya juga harus kuat!” sindir komentar lain di media sosial.
Insiden ini menambah panjang daftar bukti bahwa sindikat judi online telah menyusup jauh ke berbagai lini kehidupan masyarakat, termasuk ke ruang yang seharusnya paling steril: kelas dan buku pelajaran.
Warganet menyuarakan kekhawatiran yang sama: bahwa praktik judi digital bukan hanya menghancurkan mental generasi muda, tapi juga memicu utang, kriminalitas, hingga kehancuran rumah tangga.
“Kalau buku pelajaran saja bisa jadi pintu ke situs judi, bagaimana kita bisa menjamin anak-anak aman di ruang digital?” tulis seorang pengguna X.
Meski pemerintah berulang kali menyatakan perang terhadap judi online, realita di lapangan menunjukkan penanganan yang lambat dan tidak menyentuh akar persoalan.
Mulai dari pemblokiran situs yang tidak tuntas, penegakan hukum yang lemah, hingga pola penyebaran tautan yang makin canggih dan terselubung.
BACA JUGA:5 Motor Termahal di Dunia Tahun 2025: Karya Seni Beroda Dua dengan Harga Selangit
Evaluasi Total dan Penarikan Buku
Gelombang protes publik kini mengarah pada desakan agar QR code bermasalah itu segera ditelusuri dan ditarik dari peredaran. Evaluasi menyeluruh terhadap buku-buku ajar digital juga dinilai sangat mendesak, terutama yang menggunakan elemen interaktif seperti tautan atau QR code.
“Ini bukan hanya kelalaian teknis, ini adalah alarm keras bahwa sistem pendidikan kita sedang disusupi oleh ancaman digital yang sangat serius,” ujar salah satu aktivis pendidikan yang turut bersuara.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: