Di Hadapan DPR, Menhub Ungkap Fakta KMP Tunu Pratama Jaya Sebelum Tenggelam di Selat Bali
Bangkai KMP Tunu Pratama ditemukan--
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa KMP Tunu Pratama Jaya dinyatakan layak berlayar sebelum mengalami kecelakaan tragis di Selat Bali yang menewaskan dan membuat puluhan orang masih hilang.
Pernyataan ini disampaikan langsung Dudy dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Selasa (8/7), di kompleks parlemen Senayan, Jakarta.
Ia menyampaikan bahwa kapal tersebut telah menjalani perawatan dan pemeriksaan berkala, sesuai standar yang berlaku.
"Kapal tersebut berdasarkan catatan kami telah melakukan docking pada Oktober 2024 dan ramp check dilakukan pada 3 Juni 2025. Tidak ditemukan adanya kerusakan saat itu," tegas Dudy di hadapan para anggota DPR.
BACA JUGA:Tragis! Penumpang Luka, Kaca KA Sancaka Dilempar Batu saat Melintas Klaten, Polisi Kejar Pelaku
Meskipun laporan awal menunjukkan kapal dalam kondisi baik, Dudy menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk memastikan penyebab pasti tenggelamnya kapal.
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebab utama. Kami menunggu hasil penyelidikan menyeluruh dari KNKT,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyuarakan kekhawatiran publik atas kemungkinan adanya celah dalam sistem pengecekan sebelum kapal berlayar.
"Kapal ini tenggelam dalam waktu dekat setelah meninggalkan pelabuhan. Jangan-jangan memang ada yang luput dalam pengecekan terakhir,” kata Lasarus.
Ia juga mempertanyakan apakah pengecekan terakhir di pelabuhan sebelum keberangkatan sudah dilakukan sesuai prosedur, atau hanya mengandalkan ramp check sebelumnya.
BACA JUGA:Tragis! Pegawai Kemlu Ditemukan Tewas di Kamar Kos, Kepala Dililit Lakban
"Apakah ada inspeksi akhir oleh KSOP atau otoritas pelabuhan? Atau hanya berdasarkan ramp check terakhir di awal Juni?" lanjutnya.
Wakil Ketua Komisi V, Syaiful Huda, turut menyoroti pentingnya investigasi mendalam dan mengevaluasi sistem keselamatan pelayaran secara menyeluruh, apalagi hingga saat ini masih terdapat 27 korban yang belum ditemukan.
“Ini bukan kejadian biasa. Indonesia sebagai negara maritim tidak bisa lagi main-main dalam hal keselamatan transportasi laut,” tegas Huda.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: