SMAN 1 Sungai Tabuk Gelar Perpisahan di Klub Malam, Publik Soroti Etika dan Peran Sekolah

SMAN 1 Sungai Tabuk Gelar Perpisahan di Klub Malam, Publik Soroti Etika dan Peran Sekolah

Tangkapan layar perpisahan SAN 1 Sungai Tabuk --

BANJARMASIN, EDISIINDONESIA.ID — Dunia pendidikan kembali menjadi sorotan setelah kegiatan perpisahan dan pengukuhan siswa kelas XII SMAN 1 Sungai Tabuk (SMASSTA) digelar di Hexagon, sebuah tempat hiburan malam di kawasan Banjarmasin.

Acara tersebut dilangsungkan pada siang hari, namun tetap menimbulkan kontroversi publik.

Sejumlah pihak menilai pemilihan tempat tersebut kurang tepat dari sisi norma sosial dan nilai edukatif, terlebih ketika pemerintah daerah telah berulang kali mengimbau agar sekolah tidak menggelar perpisahan mewah atau berlokasi di tempat yang dianggap tidak layak secara moral.

BACA JUGA:BPOM Ungkap Efek Samping Vaksin TBC M72 Bill Gates

Iuran Rp350 Ribu dan Kritik dari Wali Murid

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa setiap siswa dikenakan iuran sebesar Rp350.000 untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, termasuk khataman Al-Qur'an massal dan sesi foto ijazah.

Bagi sebagian orang tua siswa, nominal ini dinilai membebani secara ekonomi, terutama dalam kondisi keuangan masyarakat yang tidak merata.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Radarpena (@radarpena.co.id)

Inisiatif Siswa

Kepala SMAN 1 Sungai Tabuk, Elly Agustina, membenarkan bahwa kegiatan perpisahan memang dilaksanakan di Hexagon. Namun, ia menegaskan bahwa keputusan lokasi dan teknis acara sepenuhnya ditentukan oleh siswa melalui panitia internal mereka.

“Mereka yang membentuk panitia sendiri, memilih tempat, mengatur konsumsi, dan menyusun rundown acara. Sekolah hanya mendampingi agar kegiatan berjalan aman,” ujar Elly saat dikonfirmasi, Rabu (15/5/2025).

BACA JUGA:Menkes Budi Gunadi Sebut: Pria dengan Ukuran Celana Jeans 34 Cepat Menghadap Tuhan

Soal lokasi yang menuai kritik, Elly mengaku awalnya tidak mengetahui bahwa Hexagon merupakan tempat hiburan malam.

“Kami diberitahu itu adalah kafe dan resto. Selama acaranya berlangsung siang hari, tidak ada pelanggaran, dan siswa bertanggung jawab, kami beri izin,” tambahnya.

Pertanyakan Moralitas Siswa

Kendati kegiatan dilakukan pada siang hari dan diklaim bebas pelanggaran, publik tetap mempertanyakan peran sekolah sebagai pembimbing moral dan karakter siswa.

Banyak pihak menyayangkan kurangnya arahan dari pihak sekolah terkait pemilihan tempat acara yang mencerminkan nilai kesederhanaan dan edukatif.

Sejumlah aktivis pendidikan dan tokoh masyarakat menilai bahwa membiarkan siswa menentukan segalanya tanpa panduan yang jelas bisa menjadi preseden buruk dalam dunia pendidikan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: