Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait Meninggal Dunia

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait Meninggal Dunia

Arist Merdeka Sirait Meninggal Dunia -  Arist dikenal sebagai aktivis yang selalu memperjuangkan hak dan perlindungan bagi anak-anak yang tidak memperoleh keadilan.

Kiprahnya di Komnas PA juga cukup lama, dia diangkat menjadi ketua lembaga itu sejak 2010 lalu.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dikabarkan meninggal dunia. Arist meninggal pada usia 63 tahun.

Kabar duka disampaikan Ketua Komnas Perlindungan Anak DKI Jakarta Cornelia Agatha. Cornelia menyampaikan selamat jalan dan mengunggah foto dirinya bersama Arist.

"Selamat jalan, Pak Arist. Terima kasih atas ketulusan hati dan semua jasa Bapak yang tak pernah lelah memperjuangkan nasib anak-anak di Indonesia," tulis Cornelia dalam unggahan IG Story pribadinya seperti dilihat, Sabtu (26/8/2023).

BACA JUGA:

Arist Merdeka Sirait meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya dan sempat menjalani perawatan di rumah sakit.

Jenazah Arist Merdeka Sirait yang merupakan Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak ini dibawa pihak keluarga ke Rumah duka RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat untuk disemayamkan, Sabtu (26/8/2023).

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulang-nya Ketua Komnas PA ini.

"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Kami sangat berduka mendapat informasi Bang Arist Merdeka Sirait telah wafat," kata Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA Nahar saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (26/8/2023).

Nahar mengatakan, Arist Merdeka Sirait merupakan tokoh masyarakat pelindung anak sejati, yang hingga akhir hayatnya terus melakukan upaya pemenuhan hak dan memberikan perlindungan anak, khususnya bagi anak-anak yang berhadapan dengan hukum.

Arist lahir di Pematang Siantar pada 17 Agustus 1960 lalu. Dedikasi Arist untuk anak-anak mungkin dimulai dari ayahnya yang juga peduli terhadap hak-hak anak terlantar.

Saat masih kecil, Arist tinggal di kampung halamannya bersama keluarga besar di daerah perkebunan Pematang Siantar, Sumatera Utara. Di sana banyak anak yang bekerja sebagai buruh kasar.

Kala itu, ayah Arist yang berprofesi sebagai penjahit membangun sekolah gratis untuk anak-anak yang bekerja di perkebunan. Dari sinilah kiprah Arist sebagai pelindung hak anak dimulai.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: