Ini Kunci Utama Memahami Cuaca Ekstrem di Indonesia Versi Peneliti BRIN

Ini Kunci Utama Memahami Cuaca Ekstrem di Indonesia Versi Peneliti BRIN

Peneliti BRIN ungkap cara memahami cuaca ekstrem di Indonesia.--

 

radarpena.co.id - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa prakiraan cuaca terkadang meleset saat hujan lebat melanda wilayah Jawa Barat atau Sumatra? Jawabannya mungkin terletak pada fenomena langit yang disebut Osilasi Madden-Julian atau MJO. Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Sopia Lestari, kini tengah mengkaji lebih dalam bagaimana gelombang atmosfer ini memengaruhi pola hujan di Indonesia.

Sopia, yang sedang menempuh pendidikan S3 di Nagoya University, membagikan temuan penting mengenai perbedaan struktur curah hujan selama fase MJO dalam workshop kolaborasi riset pada Selasa, 31 Maret 2026. Fokus studinya sangat relevan bagi kita yang tinggal di "Benua Maritim", sebutan untuk wilayah kepulauan Indonesia, karena siklus hujan di sini sering kali memiliki bias atau ketidakteraturan yang persisten.

Apa Itu MJO dan Mengapa Penting bagi Kita?

Secara sederhana, MJO adalah gelombang atmosfer besar yang bergerak dari barat ke timur. Bayangkan seperti sebuah "ban berjalan" yang membawa wilayah awan dan hujan lebat (konveksi aktif) serta wilayah kering secara bergantian. Fenomena ini memiliki delapan fase yang sangat memengaruhi iklim global.

Namun, tantangan besar muncul saat ilmuwan mencoba memodelkan kapan puncak hujan akan terjadi. Sopia menjelaskan adanya ketidakakuratan antara simulasi model dengan pengamatan langsung di lapangan, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan (Borneo).

“Kita dapat melihat bahwa puncak curah hujan yang diamati oleh WARP memiliki dua puncak sedangkan yang diamati oleh satelit STEM hanya memiliki satu puncak. Jadi, dari gambar ini kita dapat menunjukkan bahwa model menangkap fase puncak curah hujan yang tidak akurat selama MJO,” jelas Sopia Lestari.

Tantangan Topografi Kompleks dan Kesalahan Prediksi Waktu

Masalah utama dalam memprediksi cuaca ekstrem di Indonesia adalah topografi kita yang sangat rumit—mulai dari pegunungan tinggi hingga laut yang luas. Sopia menemukan adanya jeda waktu hingga 4-5 jam antara hasil model dengan kenyataan di lapangan.

Berdasarkan pengamatan, hujan maksimal sering kali terjadi pada larut malam. Namun, model komputer justru menunjukkan grafik yang semakin rendah pada waktu tersebut. Hal ini membuktikan bahwa pemisahan jenis curah hujan sangat penting untuk mendapatkan simulasi yang benar.

“Jadi dari sini kita dapat melihat ada kesalahan dalam penentuan waktu curah hujan global dan maksimum empat hingga lima jam yang menunjukkan bahwa pemisahan jenis curah hujan sangat penting untuk mensimulasikan fase siklus curah hujan dengan benar, terutama di atas benua maritim,” tegas Sopia.

Curah Hujan Stratiform vs Konveksi: Mana yang Dominan?

Melalui penelitian bertajuk Seasonal Variability of Stratiform and Convective Rainfall Structure, tim peneliti menyimpulkan bahwa pola stratiform (awan berbentuk lapisan horizontal lebar) adalah tipe curah hujan yang paling dominan selama fase MJO.

Berikut adalah beberapa poin penting dari temuan tersebut:

  • Pengaruh Besar: MJO memberikan dampak yang signifikan terhadap curah hujan stratiform maupun konveksi di Indonesia.

  • Perbedaan Wilayah: Frekuensi hujan stratiform di Sumatra ternyata lebih tinggi dibandingkan di Pulau Jawa.

  • Fase Aktif: Curah hujan tipe stratiform akan jauh lebih tinggi saat MJO berada pada fase aktif.

  • Kemandirian Fenomena: Menariknya, pola ini tampaknya tidak berkaitan langsung dengan siklus Samudra Hindia (Indian Ocean).

Penelitian ini menjadi sangat krusial karena Indonesia sangat rentan terhadap banjir parah yang dipicu oleh MJO. Sopia menyoroti bahwa selama ini belum banyak riset yang menyelidiki pola temporal dan spasial skala halus seperti ini di atas Benua Maritim Indonesia.

“Struktur konveksi awan sangat penting untuk eksperimen model dan ini juga penting sebagai kontributor utama untuk perbedaan waktu dan distribusi spasial serta ambivalensi di atas Benua Maritim Indonesia,” tutup Sopia.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang struktur hujan ini, diharapkan sistem peringatan dini bencana banjir di masa depan bisa menjadi lebih akurat dan membantu kita semua bersiap menghadapi cuaca ekstrem.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: brin