Tragis! 10 Hari Jelang Pernikahan, Calon Pengantin Wanita di Gaza Kritis Ditembak Sniper Israel

Tragis! 10 Hari Jelang Pernikahan, Calon Pengantin Wanita di Gaza Kritis Ditembak Sniper Israel

Kisah tragis Hala Salem Darwish, calon pengantin wanita di Gaza yang kritis akibat tembakan penembak jitu Israel.--

 

radarpena.co.id – Kisah memilukan kembali datang dari wilayah konflik Palestina. Sepuluh hari sebelum pernikahannya yang telah lama ia nantikan, Hala Salem Darwish kini harus berjuang antara hidup dan mati di ruang perawatan intensif. 

Harapan untuk mengenakan gaun pengantin pupus setelah sebuah peluru dari penembak jitu Israel menembus jendela rumah keluarganya dan mengenai kepalanya secara tiba-tiba.

Tragedi mengerikan ini seketika mengubah hitungan mundur hari bahagia gadis berusia 19 tahun tersebut menjadi perjuangan yang sangat kritis untuk bertahan hidup.

Detik-Detik Peluru Menembus Jendela Rumah

Peristiwa keji ini terjadi saat Hala sedang membantu keluarganya menyiapkan makanan sesaat sebelum matahari terbenam. Tanpa ada peringatan apa pun, sebuah peluru tajam menerobos masuk melalui jendela rumahnya.

Amunisi tersebut langsung mengenai bagian belakang kiri kepala Hala, hingga membuatnya pingsan seketika di depan mata para kerabatnya.

Berikut adalah beberapa fakta memilukan terkait kondisi yang menimpa Hala:

  • Kerusakan Otak Parah: Peluru tersebut masih bersarang di dalam kepala Hala dan menyebabkan kerusakan yang sangat parah pada jaringan otaknya.

  • Operasi Belum Bisa Berjalan: Tim dokter belum dapat melakukan tindakan operasi pengangkatan peluru karena kondisi kesehatan Hala yang masih belum stabil.

  • Butuh Evakuasi Medis Segera: Satu-satunya harapan untuk menyelamatkan Hala adalah dengan membawanya keluar dari Gaza karena keterbatasan alat medis yang parah.

Impian Pernikahan yang Berubah Jadi Duka

Tunangan Hala, Mohammed Shreihi, mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas tragedi yang menimpa calon istrinya tersebut. Kepada Anadolu, Mohammed bercerita bahwa mereka berdua sedang menghitung hari menuju pernikahan.

“Hanya tersisa 10 hari lagi sampai pernikahan kami. Dalam sekejap, semuanya berubah,” ujar Mohammed dengan nada getir.

Ia mengenang kembali bagaimana sang kekasih sangat bersemangat menyambut hari bahagia mereka. “Dia seperti pengantin pada umumnya, penuh sukacita dan antisipasi. Sekarang kami hanya berharap dia selamat,” tambahnya.

Kesedihan serupa juga menyelimuti hati ayah Hala, Salim. Momen berdarah itu masih terus menghantui pikirannya hingga saat ini.

“Kami sedang menyiapkan makanan ketika tiba-tiba peluru Israel menembus jendela dan mengenainya. Dia jatuh di depan kami. Saya tidak bisa melupakan pemandangan itu,” kenang Salim.

Padahal, pihak keluarga telah mempersiapkan segala keperluan pernikahan yang dijadwalkan pada awal Mei ini, meskipun mereka harus hidup di tengah kesulitan perang.

Krisis Sistem Kesehatan Gaza dan Pelanggaran Gencatan Senjata

Kasus yang menimpa Hala mencerminkan realitas yang jauh lebih kelam di Jalur Gaza. Saat ini, sistem kesehatan di wilayah tersebut telah berada di ambang kehancuran total.

Tim dokter yang merawat Hala menegaskan bahwa fasilitas medis yang ia butuhkan tidak lagi tersedia di dalam Gaza akibat kekurangan obat-obatan serta peralatan medis yang parah.

Karena alasan tersebut, Hala membutuhkan transfer medis mendesak ke luar negeri. Berdasarkan perkiraan otoritas Palestina, ada sekitar 22.000 orang yang terluka dan sakit di Gaza yang bernasib sama seperti Hala, yaitu memerlukan evakuasi keluar wilayah tersebut demi mendapatkan pengobatan yang layak.

Mohammed telah mengajukan permohonan bantuan kepada Komite Internasional Palang Merah dan berbagai organisasi kemanusiaan global lainnya agar mereka bersedia turun tangan membantu evakuasi Hala tepat waktu. Namun untuk saat ini, gaun pengantin yang telah Hala siapkan masih tersimpan rapi tanpa sempat ia pakai.

Kejadian yang menimpa Hala menambah daftar panjang pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang telah ditandatangani pada Oktober lalu. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza, Israel terus melakukan pelanggaran harian yang sejauh ini telah menewaskan 830 warga Palestina dan melukai 2.345 orang lainnya.

Padahal, kesepakatan gencatan senjata tersebut semula bertujuan untuk mengakhiri serangan militer Israel selama dua tahun di Gaza.

Serangan tersebut telah merenggut lebih dari 72.000 korban jiwa, melukai 172.000 orang, serta menghancurkan hingga 90% infrastruktur sipil. Pihak PBB sendiri memperkirakan biaya rekonstruksi untuk memulihkan kehancuran tersebut mencapai sekitar $70 miliar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: