Kisah Horor Cermin Tua: Wajah Adik di Balik Bayangan, Trauma Lama yang Hidup Kembali
Ilustrasi: Kisah Horor Cermin Tua: Wajah Adik di Balik Bayangan, Trauma Lama yang Hidup Kembali--Wallpaper Flare
"Kenapa, Kak?" suaranya memilukan.
Ketakutan memuncak. Cermin itu bukan lagi sekadar pantulan, melainkan jendela ke masa lalu yang paling saya benci. Saya dipaksa menghadapinya.
Di dalam cermin, saya melihat diri saya yang lebih muda, berdiri di pinggir jalan dan melepaskan genggaman tangan adik saya.
Suara klakson yang memekakkan telinga terdengar lagi di kepala saya, dan gambaran tubuh kecilnya yang tergeletak di jalan basah membuat saya menjerit.
Cermin itu tidak hanya mengulang trauma, tetapi juga mengubahnya menjadi kenyataan yang hidup.
Sosok adik saya di dalam cermin kini menangis. Air matanya menetes di permukaan cermin, lalu mengalir keluar, membasahi bingkai kayu yang retak.
"Kakak tidak pernah mencoba menolongku," bisiknya, dan cermin itu mulai retak lebih parah, seolah duka yang ada di dalamnya terlalu besar untuk ditampung.
Saya akhirnya mengerti, cermin itu tidak akan membiarkan saya pergi sampai saya mengakui kesalahan saya.
Sambil menangis, saya mendekati cermin, menyentuh permukaannya yang dingin, seolah saya bisa menyentuh adik saya sekali lagi.
"Maafkan Kakak," bisik saya.
Seketika, bayangan adik saya memudar, retakan di cermin tidak lagi menyebar, dan air mata yang membasahi bingkai perlahan mengering.
Saya berdiri sendiri di depan cermin yang kini kembali memantulkan bayangan diri saya yang lelah, tetapi entah mengapa, terasa sedikit lebih ringan.
Cermin itu masih ada, tetapi sekarang, saat saya menatapnya, saya tidak lagi hanya melihat trauma.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: