Burung Beracun Menyebar di Indonesia, Akibatnya Kematian

Burung Beracun Menyebar di Indonesia, Akibatnya Kematian

Burung Pitohui beracun--

Radarpena.co.id, Jakarta - Burung Pitohui yang merupakan burung endemik Papua memikat para pakar biologi untuk melakukan penelitian. Salah satu yang terpincut ialah Kasun Bodawatta dari Universitas Copenhagen.

Bodawatta mengatakan, burung Pitohui merupakan burung paling beracun di dunia. Ia bahkan sempat terpapar racun burung itu saat mengambil sampelnya, dengan ditandai keluarnya air mata.

 

"Orang berpikir saya sedang sedih dan tertekan dalam ekspedisi karena melihat saya mengeluarkan air mata. Hidung saya juga berair," kata Bodawatta, dikutip dari IFLscience, Sabtu (16/8/2025).

BACA JUGA:Anti Mainstream! Ide Hadiah Lomba Panjat Pinang yang Bikin Peserta Semangat

"Padahal, saya hanya duduk sambil mengambil sampel burung Pitohui, burung paling beracun di planet," tegasnya.

 

Sebagai hewan endemik, burung Pitohui hanya bisa ditemukan di hutan Papua. Burung itu juga kerap disebut regent whistler (pachycephala schlegelii).

Selain Pitohui, ada juga jenis burung lonceng rufous-naped (Aleadryas rufinucha) yang ditemukan mengandung racun.

BACA JUGA:Di Mana Naskah Proklamasi Asli Disimpan? Ini Lokasi dan Fakta Menariknya yang Gak Banyak Orang Tahu

Keduanya menyimpan jenis neurotoxin bernama batrachotoxin yang paling berbahaya. Neurotoxin merupakan racun yang mampu membuat mata manusia berair, mirip seperti efek memotong bawang.

Peneliti mengatakan batrachotoxin yang ditemukan dalam 2 spesies burung di Papua berasal dari makanan yang dikonsumsi di hutan. Namun, dampaknya bukan pada burung melainkan yang berkontak dengan salah satu bagian burung.

BACA JUGA:3 Drama Korea Terbaru yang Lagi Hits di Netflix, Cocok Buat Maraton Saat Long Weekend!

Saat memakannya, para burung tidak sakit ataupun mati. Racun masuk ke dalam bulu dan menyatu. Namun jika dikonsumsi manusia, maka racun bisa menyebabkan kematian.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: