Sindrom Berbahaya ketika Alergi Obat Bisa Mematikan, di Indonesia Kurang Dikenal

Sindrom Berbahaya ketika Alergi Obat Bisa Mematikan, di Indonesia Kurang Dikenal

Sebuah foto penderita Steven Johnson's Syndrome--

 

Gejala Awal yang Sering Diabaikan

SJS sering kali diawali dengan gejala mirip flu, seperti demam, sakit tenggorokan, nyeri sendi, dan kelelahan. Setelah beberapa hari, muncul ruam merah yang berubah menjadi lepuh, luka di mulut, mata memerah dan perih, hingga kulit mengelupas. Luka-luka ini terasa sangat nyeri dan bisa menyebabkan dehidrasi berat, infeksi sekunder, hingga gagal organ.

BACA JUGA:Kenali Sindrom Polikistik Ovarium Pada Wanita, dari Gejala Hingga Cara Mengatasinya

Tingkat kematian untuk SJS berkisar antara 5–10%, tetapi bisa mencapai lebih dari 30% pada kasus TEN.

 

Diagnosis dan Penanganan

Diagnosis dilakukan oleh dokter kulit atau spesialis melalui pemeriksaan fisik, riwayat konsumsi obat, dan terkadang biopsi kulit. Tidak ada obat khusus untuk SJS. Penanganan utama adalah menghentikan obat penyebab secepat mungkin, kemudian memberikan perawatan suportif intensif seperti:

  • Cairan dan nutrisi infus
  • Perawatan luka mirip pasien luka bakar
  • Obat penghilang rasa sakit
  • Pencegahan infeksi sekunder
  • Perawatan mata oleh spesialis

Beberapa rumah sakit menggunakan terapi tambahan seperti kortikosteroid sistemik, imunoglobulin intravena (IVIG), atau imunosupresan, meskipun efektivitasnya masih menjadi perdebatan di kalangan medis.

BACA JUGA:Mengenal Sindrom Kardiometabolik dan Efeknya Bagi Kesehatan

 

Pencegahan dan Kesadaran Publik

Satu-satunya cara untuk mencegah SJS adalah dengan menghindari obat pemicu, terutama jika seseorang memiliki riwayat alergi sebelumnya.

Di beberapa negara seperti Thailand dan Korea Selatan, uji genetik terhadap varian HLA tertentu (misalnya HLA-B*1502) dilakukan sebelum pemberian obat berisiko tinggi seperti carbamazepine.

Sayangnya, di Indonesia, kesadaran terhadap sindrom ini masih rendah. Banyak kasus baru ditangani setelah kondisi memburuk, akibat kurangnya informasi dan keterlambatan diagnosis.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: