Sering Belanja Impulsif saat Dompet Lagi Tipis? Ternyata Ini Alasannya
Belanja Online/ilustrasi-ilustrasi-Berbagai Sumber
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Di masa ekonomi yang serba menantang seperti sekarang, nasihat “hemat itu penting” pasti sudah sering banget kamu dengar. Intinya simpel, belanja secukupnya, prioritaskan kebutuhan utama.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak dari kita justru sering terjebak dalam kebiasaan belanja impulsif yang nggak terencana, terutama untuk barang-barang yang sebenarnya nggak terlalu dibutuhkan.
Misalnya, sekadar membeli skincare terbaru, camilan favorit, atau barang-barang kecil yang bikin senang tapi nggak esensial.
Fenomena ini bukan cuma masalah pribadi, tapi juga sudah menjadi tren yang muncul di banyak masa krisis ekonomi dan sosial. Kenapa kita suka banget belanja “sesuatu” di saat keadaan finansial sedang sulit?
Apa sih yang sebenarnya terjadi di balik dorongan itu? Yuk, kita kupas alasan-alasan menarik di balik kebiasaan ini dari sudut pandang psikologis dan sosial.
BACA JUGA:Belajar Menabung ala Jepang: 6 Tips Jitu ala Metode Kakeibo yang Bikin Keuangan Aman
1. Belanja Impulsif Sebagai ‘Pelarian’ dari Tekanan Hidup
Kalau kamu merasa belanja bisa jadi pelipur lara di tengah masalah finansial, kamu nggak sendirian. Fenomena ini sebenarnya sudah terjadi di berbagai krisis dunia.
Mulai dari krisis ekonomi global tahun 2008-2009 hingga pandemi COVID-19. Menurut artikel di The Guardian oleh Jessica Rozen, belanja spontan ini memberikan kepuasan instan yang bikin kita merasa sedikit lebih baik. Seperti hadiah kecil buat diri sendiri yang bisa memperbaiki mood sekejap.
Yang lucu, terkadang kita malah tergoda diskon atau promo tanpa mikir panjang, padahal mungkin ada pilihan lain yang lebih murah.
Kenapa? Karena belanja jadi semacam coping mechanism, cara kita melawan stres dan rasa cemas akibat kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.
2. Ketakutan, Kelangkaan, dan ‘FOMO’ Memicu Dorongan Belanja
Studi dari Biswakarma dan Adhikari di Nepal menunjukkan kalau tiga hal ini jadi pemicu besar belanja impulsif, khususnya di masa pandemi.
Ketakutan, kelangkaan barang, dan pengaruh sosial alias fear of missing out (FOMO). Jadi, bukan cuma soal kebutuhan nyata, tapi juga bagaimana kita memaknai situasi.
BACA JUGA:8 Cara Trading Crypto bagi Pemula: Langkah Bijak Menuju Keuangan yang Lebih Baik
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: