Mengapa Israel Kejam pada Palestina? Penindasan Dibalik Pertahanan Diri
Penyebab kekejaman Israel pada Palestina --
Radarpena.disway.id, Jakarta - Konflik antara Israel dan Palestina telah berlangsung lebih dari 75 tahun, menimbulkan korban jiwa, pengungsian massal, dan luka sejarah yang mendalam. Di mata sebagian besar masyarakat dunia, Israel kerap dianggap bersikap kejam terhadap Palestina. Namun, untuk memahami tuduhan tersebut, kita harus menelusuri akar Konflik, dinamika kekuasaan, serta kepentingan yang bertabrakan di baliknya.
Akar Sejarah yang Kompleks
Konflik ini berakar dari pertentangan klaim atas tanah yang sama: wilayah Palestina yang dulunya berada di bawah mandat Inggris. Pada tahun 1948, ketika negara Israel diproklamasikan, terjadi perang antara Israel dan negara-negara Arab. Ratusan ribu warga Arab Palestina kehilangan tempat tinggal dalam peristiwa yang disebut Nakba (bencana). Sejak itu, wilayah yang semula diperuntukkan bagi Palestina terus menyusut.
BACA JUGA:PDI Perjuangan Ingatkan Pemerintah: Jangan Buru-Buru Jalin Hubungan Diplomatik dengan Israel
Pendudukan dan Pemukiman
Setelah Perang Enam Hari tahun 1967, Israel menguasai:
- Tepi Barat
- Yerusalem Timur
- Gaza
Meskipun Israel mundur dari Gaza pada 2005, wilayah tersebut masih diblokade dari udara, darat, dan laut. Di Tepi Barat, Israel terus membangun pemukiman Yahudi yang dianggap ilegal oleh PBB, di atas tanah yang diklaim Palestina. Ini memicu tudingan bahwa Israel sedang menjalankan praktik kolonialisme modern.
BACA JUGA:Pesawat Yemenia Pengangkut Jamaah Haji Dirudal Israel di Bandara Sanaa
Yang dihadapi Warga Palestina
- Penggusuran paksa dari rumah mereka,
- Penahanan tanpa pengadilan,
- Pembatasan gerak lewat pos pemeriksaan militer,
- Kekerasan dari pemukim bersenjata yang dilindungi tentara Israel.
Konflik Bersenjata dan Korban Sipil
Israel berdalih bahwa semua tindakan militer adalah untuk pertahanan diri dari kelompok militan seperti Hamas, yang kerap meluncurkan roket dari Gaza ke wilayah Israel. Namun serangan balasan Israel seringkali menargetkan kawasan padat penduduk, yang menyebabkan:
- Ribuan warga sipil tewas,
- Rumah, sekolah, dan rumah sakit hancur,
- Krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Menurut laporan lembaga hak asasi internasional, jumlah korban jiwa dan kerusakan yang diderita Palestina jauh lebih besar dibanding Israel, menandakan adanya ketimpangan kekuatan yang ekstrem.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: