Menjelajah Istana Kadriah hingga Kawasan Kota Tua: Menelusuri Jejak Kolonial Belanda di Pontianak
Wisata Jejak Kolonial Belanda di Kota Pontianak--pontianakinfo
PONTIANAK, RADARPENA.CO.ID - Kota Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, selama ini dikenal dengan kulinernya yang khas serta keragaman budaya masyarakatnya.
Namun di balik hiruk pikuk modernitas, kota di tepi Sungai Kapuas ini menyimpan jejak sejarah kolonial Belanda yang masih bertahan kokoh hingga hari ini.
Istana Kadriah & Masjid Jami
Salah satu peninggalan penting adalah Istana Kadriah, dibangun tahun 1771 oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie.
BACA JUGA:Menikmati Kue Bingke, Kuliner Khas Pontianak yang Melegenda
Meski merupakan pusat Kesultanan Pontianak, pengaruh arsitektur kolonial terlihat kuat pada struktur bangunannya.
Tak jauh dari istana berdiri Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman, yang memadukan gaya arsitektur Melayu, Timur Tengah, dan sentuhan Eropa — bukti adanya akulturasi budaya pada masa penjajahan.
Bangunan Kolonial di Jantung Kota
Jejak kolonial juga sangat terasa di kawasan Jalan Tanjungpura dan sekitarnya, yang kini dikenal sebagai Kota Tua Pontianak.
Bangunan tua bergaya Belanda dengan jendela lebar, pintu tinggi, dan dinding tebal masih berdiri dan kini difungsikan sebagai pertokoan, perkantoran, hingga rumah tinggal tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Posisi Pontianak yang berada di pertemuan tiga sungai besar — Kapuas, Landak, dan Kapuas Kecil — menjadikannya pusat strategis pada masa kolonial.
Letak ini menjadikan Pontianak sebagai salah satu simpul perdagangan penting di Kalimantan, tempat pedagang dari berbagai daerah hilir-mudik membawa komoditas dan budaya.
BACA JUGA:Masjid Jami Pontianak, Jejak Sejarah Spiritual Masyarakat Kalimantan Barat
Kini, pemerintah daerah bersama komunitas sejarah terus melakukan revitalisasi kawasan bersejarah. Tujuannya tak hanya melestarikan nilai historis, tetapi juga mengembangkan Pontianak sebagai destinasi wisata sejarah yang edukatif.
Pontianak bukan hanya kota modern yang terus berkembang, tetapi juga museum hidup sejarah kolonial. Setiap sudut kota — dari istana tua, masjid kuno, hingga bangunan bergaya Belanda — menyimpan cerita panjang tentang perjalanan budaya, kekuasaan, dan kehidupan masyarakatnya.(PNTIANAK INFO)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: