Rijsttafel: Warisan Jamuan Kolonial yang Menyimpan Cerita Nusantara
Hidangan Rijsttafel yang cocok untuk menau malam peringatan 17 agustus-an--
Radarpena.co.id, Jakarta - Bayangkan sebuah meja panjang yang dipenuhi puluhan piring berisi berbagai hidangan lezat.
Ada rendang yang pekat bumbunya, sate yang harum terbakar arang, gulai ayam yang gurih, sambal terasi yang menggoda, hingga sayur urap yang segar. Inilah rijsttafel, tradisi jamuan makan yang lahir di masa kolonial Belanda, namun menyimpan kekayaan cita rasa Indonesia.
Dari Meja Belanda ke Lidah Nusantara
- Kata rijsttafel berasal dari bahasa Belanda: rijst berarti nasi, dan tafel berarti meja. Meski artinya sederhana — “meja nasi” — praktiknya jauh lebih mewah. Tradisi ini berkembang pada era Hindia Belanda sebagai cara pejabat kolonial menjamu tamu penting.
- Konsepnya unik: mereka ingin menyajikan “Indonesia dalam satu meja” dengan menghadirkan hidangan dari berbagai daerah sekaligus. Inspirasi ini datang dari jamuan kerajaan di Jawa, Sumatra, dan Bali, lalu dipadukan dengan gaya makan formal ala Eropa.
BACA JUGA:Resep Tumpeng Merah Putih 17 Agustus: Cantik, Mudah Dibuat, dan Penuh Makna
BACA JUGA:Cara Mengolah Pare agar Tidak Pahit saat Disajikan
Pesta Rasa dalam Satu Meja
Ciri khas rijsttafel adalah jumlah hidangannya yang banyak. Dalam satu jamuan, bisa tersaji 7 hingga 30 macam makanan, semuanya dihidangkan serentak. Biasanya terdiri dari:
- Aneka nasi — putih, kuning, atau uduk.
- Lauk berat — rendang, opor ayam, gulai kambing, ikan bakar.
- Pelengkap — kerupuk, acar, sambal, serundeng.
- Sayuran — urap, lodeh, tumis kacang panjang.
- Paduan rasa manis, gurih, pedas, dan asam berpadu menciptakan pengalaman makan yang kaya dan tak terlupakan.
BACA JUGA:Bumbu Instan Indonesia disebut Pemicu Kanker di AS, BPOM ungkap!
Rijsttafel di Zaman Sekarang
Setelah Indonesia merdeka, tradisi ini perlahan memudar di tanah air. Namun, rijsttafel justru tetap populer di Belanda. Banyak restoran di Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag menjadikannya menu andalan. Di Indonesia, konsep ini masih bisa ditemui di beberapa restoran hotel berbintang atau tempat makan yang ingin menghidupkan kembali nostalgia kolonial.
BACA JUGA:Kafe tak lagi Putar Musik, Nuansa Anyep, Kualitas?
Lebih dari Sekadar Makan
Rijsttafel bukan hanya soal makan besar, tapi juga simbol persilangan budaya. Ia adalah bukti bagaimana kolonialisme menciptakan sesuatu yang baru dari perpaduan tradisi — meski lahir dari sejarah yang kelam, namun meninggalkan warisan kuliner yang kaya rasa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: