Wisatawan Australia Viralkan Labuan Bajo di Indonesia, 'Mirip Santorini '
Salah satu penampakan desa nelayan di Labuan Bajo yang mirip tempat di Eropa--
Untuk sampai ke sana, pertama-tama Anda terbang ke Bali atau Jakarta, lalu naik pesawat atau kapal menuju Labuan Bajo. Terbang dari Bali memakan waktu sekitar satu jam (dan, tergantung pada waktu dalam setahun, biayanya bisa semurah USD66) sementara feri memakan waktu dua hari, dengan biaya sekitar USD40, membawa Anda melewati Lombok dan Sumbawa sebelum berlabuh di Bajo.
Pilihan ketiga adalah naik perahu layar dan menghabiskan beberapa hari untuk bersnorkel dan menyelam dalam perjalanan ke sana. Daerah ini populer di kalangan wisatawan yang suka berpetualang, tertarik dengan reptil besar, serta Ikan Pari Manta dan hiu karang.
BACA JUGA:Maskapai Berlomba-lomba Tawarkan Promo Tiket Murah ke Labuan Bajo, Labuan Bajo Semakin Mendunia
Labuan Bajo yang dulunya merupakan desa nelayan kecil, kini menjadi pusat wisata yang berkembang dan pintu gerbang menuju Kepulauan Komodo dan Pulau Flores. Di dekatnya terdapat air terjun, pantai, dan jalur pendakian yang bagus (naiklah ke Pulau Padar untuk mendapatkan pemandangan pantai merah muda yang terkenal).
Ada juga Desa Wae Rebo yang berjarak 4 jam berkendara dari Labuan Bajo.
Video di TikTok tersebut juga memicu diskusi mengenai masa depan kota tersebut, dengan sebagian orang bereaksi marah terhadap banyaknya orang yang menandai teman-teman mereka dan mengatakan bahwa mereka perlu berkunjung serta menyebutnya dengan sebutan seperti "Santorini dari Temu."
BACA JUGA:5 Rekomendasi Tempat Wisata Mempesona di Nusa Tenggara Timur Selain Labuan Bajo
Status Labuan Bajo sebagai pelabuhan gerbang berarti tempat ini menjadi tujuan wisata dengan prioritas tinggi bagi pemerintah. Meskipun ada harapan untuk membangun infrastruktur yang efektif, ada kekhawatiran bahwa hal itu tidak akan memenuhi permintaan (atau hanya akan meningkatkan permintaan), sehingga membebani masyarakat setempat dan sumber daya alam.
Jensi Sartin, koordinator Kawasan Konservasi Laut Komodo, mengatakan kepada Radarpena bahwa Taman Nasional Komodo dan daerah sekitarnya, termasuk Labuan Bajo, dapat mengumpulkan rata-rata 13 ton sampah dalam satu hari, 35 hingga 40 persen di antaranya adalah sampah anorganik.
Taman Nasional Kepulauan Komodo merupakan salah satu taman dengan pendapatan tertinggi di Indonesia, dengan pendapatan tercatat pada tahun 2018 sebesar Rp 32 miliar (sekitar tiga juta AUD).
Pada tahun 2023, Taman Nasional Komodo menyambut 300.488 pengunjung, meningkat signifikan dibandingkan dengan 170.354 pada tahun 2022.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: