Bursa Saham Melorot, Harga Saham BBTN Malah Naik
--
Namun, ia menilai pasar masih memberikan diskon cukup besar terhadap BBTN. Lantaran sensitivitas perseroan terhadap cost of fund, likuiditas, dan siklus suku bunga properti dinilai lebih tinggi dibandingkan bank sejenis.
“Karena itu, BBTN lebih cocok untuk investor dengan profil agresif yang percaya pada peluang penurunan suku bunga di semester kedua 2026,” tulis Liza dalam risetnya, dikutip Selasa, 19 Mei 2026.
Tak hanya itu praktisi pasar modal, Hans Kwee menilai saat ini valuasi saham-saham blue chip dan perbankan terbilang murah. Salah satunya saham BBTN yang mampu ditutup menghijau.
Kepercayaan investor terhadap emiten BUMN itu tidak lepas dari sisi fundamental yang solid. Hingga kuartal I 2026, BBTN mencatatkan perolehan laba bersih senilai Rp1,1 triliun atau tumbuh 22,6% year-on-year (YoY). Capaian tersebut didukung penyaluran kredit senilai Rp 400,63 triliun atau naik 10,3% YoY.
Penyaluran kredit yang positif juga ditopang penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BBTN senilai Rp 422,63 triliun. Jumlah tersebut meningkat 9,9% YoY dari Rp 384,70 triliun di kuartal I 2025. Current account and savings account (CASA) BBTN juga tercatat naik 7,9% YoY menjadi Rp 212,11 triliun, berkontribusi sebesar 50,2% dari total DPK.
Cost of Fund (CoF) BBTN membaik ke level 3,0% per kuartal I 2026. Turun dari 4,0% di periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja kredit dan DPK tersebut juga ikut menopang peningkatan aset BTN sebesar 10,5% YoY menjadi Rp 517,54 triliun per kuartal I 2026.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: