La Nina Masih Aktif, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Sangat Lebat hingga Pekan Depan di Wilayah Ini

La Nina Masih Aktif, BMKG Ingatkan Potensi Hujan Sangat Lebat hingga Pekan Depan di Wilayah Ini

BMKG rilis analisis dinamika atmosfer terbaru. Waspada fenomena La Nina lemah dan potensi hujan sangat lebat di sejumlah wilayah Indonesia hingga 9 Februari 2026.-Foto:IG@bmkg-

Radarpena.id - Masyarakat Indonesia harus tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih mengintai hingga sepekan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa fenomena La Nina lemah masih aktif menghiasi dinamika atmosfer tanah air pada awal Februari 2026.

Berdasarkan analisis terbaru, sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia atau setara dengan 567 Zona Musim (ZOM) saat ini masih berada dalam periode musim hujan. Indeks ENSO menunjukkan angka -0.5 yang menandakan La Nina lemah masih konsisten, meski diprediksi akan beralih menuju fase Netral pada periode Februari hingga Maret mendatang.

"Kondisi La Nina lemah diprediksi mulai beralih menuju fase Netral pada Februari-Maret 2026," tulis BMKG dalam laporan resminya, Rabu 4 Februari 2026.

Meskipun curah hujan secara umum berada pada kriteria rendah hingga menengah, BMKG memberikan alarm khusus untuk sejumlah daerah. Beberapa wilayah berpotensi mengalami hujan dengan kategori curah tinggi hingga sangat tinggi, yakni lebih dari 150 mm per dasarian. 

Wilayah yang masuk dalam zona siaga hujan lebat hingga sangat lebat antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, NTT, Sulawesi Selatan, hingga Papua.

Potensi cuaca ekstrem ini dipicu oleh dorongan angin utara lintas ekuator serta gelombang atmosfer yang aktif di tengah Monsun Asia. Fenomena ini meningkatkan peluang terjadinya hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang secara mendadak.

Untuk periode 6 hingga 9 Februari 2026, BMKG menetapkan status siaga hujan sangat lebat khusus untuk wilayah Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Pegunungan. Selain hujan, ancaman angin kencang juga menghantui wilayah Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.

Mengingat kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu, BMKG mengimbau para pemangku kepentingan dan masyarakat untuk terus memantau informasi peringatan dini. Langkah mitigasi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor perlu diperkuat, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki curah hujan di atas 300 mm per bulan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait