Striptease Importir dan Pelapak Binaan Dalam Praktik Oligopoli Masih Anjloknya Harga Singkong di Lampung
--
Jadi dengan skema harga dan rafaksi terbaik saja, petani sudah merugi. Bayangkan kalau pabrikan menerapkan rafaksi di atas 35 persen. Maka petani singkong kian menjerit. Menangis tanpa lagi bisa mengeluarkan air mata.
BACA JUGA:Densus 88 Turun Tangan Usut Ancaman Bom Pesawat Saudi Airlines yang Angkut 442 Jemaah Haji Indonesia
Itulah akhirnya petani lebih memilih menjual ke lapak lapak saja. Harga lapak antara Rp 950-Rp 1050 perkilo dengan rafaksi rata rata 33 persen.
Meskipun hanya menerima Rp 700 dipotong upah cabut dan angkut Rp 210 maka yang diterima bersih hanya Rp 490/500 perkilo. Terpaksa karena menghindari resiko yang lebih besar lagi.
Karena dalam pikiran petani menjual ke lapak dan pabrik hasilnya sama saja. Toh mereka pun tetap menerima bersih perkilo di bawah Rp 500.
Menurut hasil investigasi radar lampung grup, anjloknya harga singkong ini tidak akan merugikan pelapak. Kalaupun ada pelapak yang mati itu lebih disebabkan karena mereka bukan termasuk pelapak yang memiliki hubungan baik dan kerjasama dengan pabrik.
Sebagian besar pelapak yang masih hidup ini bisa dikategorikan pelapak binaan pabrik. Bahkan bisa dikatakan lapak milik pabrik untuk mendapatkan singkong dengan harga yang sangat murah.
Soal keberadaan lapak binaan pabrik ini memang dirasakan petani singkong. Namun, petani sulit membuktikannya. Ibarat kentut. Ada bau tapi tidak terlihat.
BACA JUGA:Dampak Perang Iran-Israel Bagi Dunia Industri Indonesia, Ngeri-Ngeri Sedap
Demikian juga bagi pabrikan. Apalagi pabrikan yang juga memiliki izin impor.
Mereka tetap tidak merugi. Selain mereka tetap mendapatkan singkong murah, mereka juga menikmati dari keuntungan impor.
Petani singkong lah yang akhirnya menjadi korban anjloknya harga singkong itu. Perjuangan mereka untuk mendapatkan harga yang lebih sekadar tidak merugi saja, sudah lebih dari cukup.
Berteriak lantang di hadapan pejabat, demo bahkan bersurat ke Presiden Prabowo juga mereka lakukan.
Kini petani sudah pasrah. Bahkan bisa dikatakan telah putus asa.
Petani saat ini dengan mata telanjang melihat pengusaha impor dan lapak binaan menari-nari di atas jeritan petani menghadapi anjloknya harga singkong.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: