Alami Krisis Ekonomi, Nilai mata uang jadi Tak Berharga,Indonesia?

Alami Krisis Ekonomi, Nilai mata uang jadi Tak Berharga,Indonesia?

Negara alami krisis kelaparan dikutip oleh Radio Free Asia--

Radarpena.co.id,Jakarta - Krisis ekonomi masih terus menghantam sejumlah negara di dunia. Tak hanya di Eropa, yang mayoritas saat ini mengalami krisis dalam properti, negara dunia lainnya di Afrika dan Asia juga mengalami kondisi ekonomi yang buruk.

 

Terbaru, krisis masih terus dirasakan Korea Utara (Korut). Di negara pemilik hulu ledak nuklir ini, inflasi yang sangat tinggi terus terasa di kalangan warga. Lonjakan inflasi ini membuat beberapa orang mengeluh bahwa mereka perlu membawa tas ransel penuh uang tunai hanya untuk berbelanja.

BACA JUGA:IHSG Anjlok 9,19% dan Trading Halt: Sinyal Bahaya Ekonomi atau Kepanikan Sementara?

Mengutip Radio Free Asia (RFA), Selasa (8/4/2025), selama dua tahun terakhir, harga telur, gula, daging babi, beras, dan minyak goreng telah melonjak dua kali lipat hingga lima kali lipat. Sumber tersebut mengatakan, alasan utamanya tampaknya adalah kekurangan pasokan dan depresiasi won Korea Utara terhadap yuan China dan dolar AS.

"Harga pasar telah melonjak setidaknya dua kali lipat dan, dalam beberapa kasus, lebih dari lima kali lipat," kata seorang warga provinsi Yanggang yang meminta identitasnya dirahasiakan karena alasan keamanan. 

BACA JUGA:Krisis Ekonomi! Kuba Naikkan Harga BBM Sampai 500 Persen Hingga Listrik 25 Persen

Korut tidak melaporkan data harga konsumen, jadi contoh produk tertentu mencerminkan perubahan tersebut. Misalnya, satu kilogram minyak bunga matahari, yang digunakan untuk memasak, telah naik hampir tiga kali lipat menjadi 75.000 won selama dua tahun terakhir, sementara gula telah naik empat kali lipat menjadi 40.000 won. Satu kilogram daging babi telah naik lebih dari tiga kali lipat menjadi 87.000 won.

 

Karena uang kertas 1.000 won umumnya digunakan untuk transaksi harian, membeli satu kilogram gula akan membutuhkan setumpuk 40 lembar uang kertas tersebut. Uang kertas yang lebih kecil akan membutuhkan lebih banyak lagi.

"Sekarang, alih-alih membawa kantong uang ke pasar, orang-orang benar-benar harus membawa tas ransel penuh uang tunai," tambah warga itu.

BACA JUGA: Tumbuh 5 Persen Secara Beruntun, Sri Mulyani Pede Indonesia Mampu Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi Global

Korut secara kronis telah mengalami kondisi kekurangan makanan, dan sebagian besar orang berjuang untuk mendapatkan makanan di meja mereka di tengah panen yang buruk dan ekonomi yang lemah yang masih pulih dari penutupan akibat Covid-19. Para ahli mengatakan, setiap tahun, orang-orang mati kelaparan.

Program Pangan Dunia PBB mengatakan bahwa pertanian Korut sering kali tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat karena kurangnya lahan subur dan kurangnya akses ke pupuk serta peralatan pertanian modern. Hal itu mendorong beberapa orang untuk mengambil tindakan nekat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait