Legenda Batu Menangis: Kisah Gadis Cantik Durhaka Yang Berasal Dari Kalimantan Barat
Meskipun tak pernah dibantu oleh anaknya, tetapi sang Ibu tetap rajin untuk berangkat dan bekerja di sawah atau di ladang. Setiap selesai bekerja, Darmi seringkali menghampirinya dan meminta uang hasil bekerja dari ibunya untuk memenuhi apa yang dia inginkan.
“Sudah pulang kerja? mana uang dari hasil kerjanya?” tanya Darmi
“Ibu sudah diberi upah, tapi kamu jangan mengambil uang ini karena uangnya untuk kebutuhan hidup kita sehari-hari,” jelas sang ibu.
“Aku harus terlihat cantik, bedak yang kupunya sudah habis, aku harus membeli yang baru.”
Meski dengan kesal karena anaknya hanya bisa menuntut, tapi sang ibu tetap memberikan uang dari hasilnya bekerja, demi menyenangkan hati anaknya itu.
Suatu ketika, ibu mengajak putri semata wayangnya itu untuk menuruni bukit menuju desa dimana banyak pemukiman yang dipadati penghuni untuk berbelanja segala macam kebutuhan.
Desa tersebut terletak di lokasi yang teramat sangat jauh dari rumahnya. Tanpa kendaraan apapun sehingga untuk menuju desa itu, mereka harus berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh dan cukup membuat lelah.
Seperti biasa gadis egois itu berjalan dengan pakaian yang sangat mewah dan cantik. Pakaian mewah dan riasan yang cantik itu, sengaja ia gunakan demi menarik perhatian setiap orang yang melihatnya.
Gadis itu ingin menjadi pusat perhatian dan juga ingin dikagumi oleh semua orang. Ibunya yang sudah tua, memiliki kondisi yang teramat sangat jauh berbeda dengan putrinya. Sembari membawa keranjang belanjaan, ibunya berpakaian sangat dekil dan kucel.
Meskipun mereka berjalan berdampingan, tetapi tidak ada yang menyadari bahwa mereka berdua adalah ibu dan juga anak. Hal itu karena perbedaan yang sangat jauh dan mencolok serta mereka berasal dari daerah yang terpencil.
Setibanya di desa, benar saja semua orang tak berhenti memandangi gadis itu. Para pemuda juga dibuat terpesona dengan kecantikan gadis itu. Seolah tak pernah puas, para pemuda tak mampu dan tak berani mengalihkan pandangannya terhadap anak gadis itu barang sedetikpun.
Namun, dengan kehadiran ibunya yang berpakaian dekil dan kucel semua orang bertanya-tanya siapa gerangan perempuan yang mengikuti gadis cantik tersebut.
Penduduk desa dibuat heran dengan orang di belakang Darmi. Salah satu dari mereka pun bertanya siapa orang yang berjalan di belakang Darmi. Dengan sombongnya, Darmi berkata bahwa ibunya adalah seorang pembantu.
Setiap orang yang bertanya, Darmi akan menjawab bahwa orang yang di belakangnya itu adalah pembantunya. Sang ibu hanya bisa menahan diri dan menangis dalam hati.
Begitu terus jawabannya tiap ditanya orang-orang. Awalnya sang ibu bisa menahan kejengkelannya. Lama-lama, ia tak kuasa menahan amarah dan berdoa, ” Ya Tuhan, sakit sekali hati ini mendengar hinaan anak kandung hamba tersebut. Teganya ia berbuat seperti ini pada hamba. Oleh karena itu, hukumlah ia, Tuhan!”
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: