Indonesia dan China Tinggalkan Dolar AS, Perkuat Transaksi dengan Mata Uang Lokal

Indonesia dan China Tinggalkan Dolar AS, Perkuat Transaksi dengan Mata Uang Lokal

Indonesia dan China sepakati MoU tinggalkan dolar dalam perdagangan internasional--

Radarpena.disway.id, Jakarta - BISNIS - Indonesia dan China mengambil langkah strategis untuk memperkuat kerja sama ekonomi bilateral, dengan meninggalkan dominasi dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan. Kedua negara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk mendorong penggunaan mata uang lokal, yakni rupiah dan yuan, dalam aktivitas ekonomi lintas negara.

Penandatanganan kerja sama ini dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBOC), disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri China, Li Qiang. Langkah ini menjadi bagian dari inisiatif Local Currency Settlement (LCS) yang sebelumnya telah diimplementasikan dan menunjukkan hasil signifikan.

 

Menurut data semester I tahun 2024, total transaksi LCS Indonesia mencapai Rp75,6 triliun, dengan kontribusi terbesar datang dari China sebesar 42,9 persen. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral telah menjadi praktik yang kian berkembang dan diminati.

Kesepakatan tersebut memungkinkan pertukaran mata uang antar bank sentral kedua negara hingga senilai 400 miliar yuan atau sekitar 55 miliar dolar AS. Dengan demikian, kerja sama ini diharapkan mampu menekan biaya konversi, meminimalisasi risiko fluktuasi nilai tukar, serta memperkuat ketahanan sistem keuangan masing-masing negara.

BACA JUGA:Kadin Indonesia dan Kamar Dagang China di Indonesia Sepakati Kerja Sama Dukung Program MBG

BACA JUGA:Sukseskan Asta Cita, Kadin Ungkap Investasi China Bisa Percepat Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen.

Langkah dedolarisasi ini juga sejalan dengan arah kebijakan ASEAN yang mendukung penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara. Selain China, Indonesia telah menjalin kerja sama serupa dengan Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Korea Selatan.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Banyak pelaku usaha dan perbankan masih terbiasa dengan penggunaan dolar AS. Oleh karena itu, edukasi dan penyediaan fasilitas pendukung menjadi kunci sukses dalam mendorong adopsi sistem ini secara luas.

BACA JUGA:Perbedaan Pendekatan Kebijakan: China Mendukung Peniru, Indonesia Menindak Pengrajin

BACA JUGA:Kadin Ungkap Indonesia Bisa Jadi

Upaya ini menandai pergeseran penting dalam sistem keuangan global, di mana negara-negara mulai memperkuat kedaulatan ekonomi dengan mengurangi ketergantungan pada mata uang dominan dunia. Indonesia dan China pun menunjukkan bahwa kerja sama regional dan kebijakan strategis bisa menjadi jalan menuju stabilitas dan kemandirian ekonomi yang lebih besar. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: