Harga Dexlite Melejit Jadi Rp23.600! Petani Balikpapan Menjerit, Modal Tanam Ludes Gara-Gara BBM Mahal
Harga Dexlite naik ke Rp23.600, petani Balikpapan Timur menjerit! Modal operasional traktor membengkak, sementara harga jual sayur tak kunjung naik--
Radarpena.co.id - Kabar mengejutkan datang dari sektor energi yang langsung memukul telak nasib para pahlawan pangan kita. Sejak pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada 18 April 2026 lalu, gelombang dampaknya mulai menghantam sektor pertanian di Balikpapan. Salah satu yang paling bikin geleng-geleng kepala adalah harga Dexlite yang meroket drastis dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter! Kenaikan hampir 70 persen ini tentu bikin siapa pun syok, terutama para petani yang bergantung pada mesin traktor untuk mengolah lahan.
Bayangkan saja, uang Rp100 ribu yang dulunya bisa mengisi tangki mesin dengan cukup, kini hanya bisa untuk membeli 4 liter lebih sedikit. Situasi ini bukan cuma sekadar angka di papan harga SPBU, tapi ancaman nyata bagi keberlangsungan meja makan kita semua. Jika biaya produksi tani membengkak, bagaimana nasib harga sayuran di pasar nanti?
Traktor "Makan" Solar Tetap, Tapi Kantong Petani Kian Tipis
Agus (36), seorang petani hortikultura yang mengelola lahan seluas 3 hektare di kawasan Gunung Binjai, Teritip, menceritakan kepedihannya. Ia mengaku tidak punya pilihan selain menambah modal kerja demi menjaga traktornya tetap menderu. Dalam sehari, mesin pengolah tanah miliknya tetap membutuhkan asupan bahan bakar sekitar 5 hingga 10 liter.
“Mesin tetap makan solar dengan jumlah yang sama, tidak jadi lebih irit. Mau tidak mau, kami harus keluar uang lebih banyak,” ujar Agus saat kami temui pada Selasa (21/4/2026). Masalahnya, meskipun biaya operasional melambung tinggi, mesin-mesin pertanian tersebut tidak mengenal kata kompromi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.
Nasib Miris: Biaya Produksi Naik, Harga Cabai dan Melon Malah Stagnan
Penderitaan petani Balikpapan Timur ini terasa kian ganda. Di saat pengeluaran operasional membumbung, harga jual hasil bumi seperti cabai, melon, dan sayuran tidak ikut naik. Berbeda dengan pedagang sembako yang bisa menyimpan stok barang, petani hortikultura terikat oleh waktu. Produk pertanian memiliki masa simpan yang sangat singkat dan mudah busuk.
Agus menjelaskan bahwa ia tidak punya ruang untuk menahan barang demi menunggu harga yang lebih baik. Jika barang melimpah, harga pasti jatuh, dan ia harus segera menjualnya daripada membiarkannya hancur di gudang. Akibatnya, margin keuntungan petani terus tergerus hingga hampir tidak menyisakan keuntungan sama sekali. Semua pendapatan ludes hanya untuk memutar modal produksi berikutnya.
Kelangkaan Solar Subsidi di Balikpapan Timur Memperparah Keadaan
Masalah tidak berhenti pada harga Dexlite yang selangit. Akses terhadap solar subsidi di wilayah Balikpapan Timur ternyata sangat sulit. Dari wilayah Sepinggan hingga perbatasan Kutai Kartanegara, SPBU dilaporkan sudah lama tidak menyediakan solar subsidi. Hal inilah yang memaksa petani "tercebur" menggunakan Dexlite yang harganya tidak masuk akal bagi skala usaha kecil.
Mau mencari solar subsidi ke wilayah Balikpapan Utara (Kilo)? Itu bukan solusi cerdas. Agus menilai jarak yang jauh dan antrean yang mengular hanya akan membuang waktu produktif. "Bisa-bisa barang kami keburu busuk di jalan kalau harus mengantre lama," keluhnya. Apalagi, aturan ketat melarang pembelian solar subsidi menggunakan jerigen, padahal sangat mustahil membawa traktor besar langsung ke SPBU.
Petani Butuh Solusi Nyata: Turunkan Harga atau Berikan Jalur Khusus
Menghadapi situasi yang kian mencekik ini, Agus mewakili rekan-rekan petaninya mendesak Pemerintah Kota Balikpapan dan Pertamina untuk segera turun tangan. Ada dua solusi krusial yang mereka tawarkan agar sektor pertanian tidak gulung tikar. Pertama, pemerintah perlu meninjau kembali atau menurunkan harga Dexlite agar lebih terjangkau.
Kedua, perlu ada perluasan distribusi solar subsidi hingga menjangkau pelosok Balikpapan Timur. Agus juga mengusulkan sistem verifikasi khusus, misalnya menggunakan kartu petani, agar mereka bisa membeli BBM subsidi secara legal untuk keperluan alat mesin pertanian. "Kami butuh jalur khusus. Ini kan untuk traktor, bukan untuk disalahgunakan," tegasnya.
Waktu Adalah Modal: Jangan Biarkan Petani Habis di Antrean SPBU
Bagi petani, waktu di ladang jauh lebih berharga daripada waktu untuk mencari solar murah. Saat ini, mereka berada di persimpangan jalan yang sulit: menggunakan Dexlite berarti bangkrut perlahan, sedangkan mencari solar subsidi berarti membuang waktu hingga hasil panen terancam rusak. Pemerintah harus bergerak cepat sebelum para petani menyerah dan ketahanan pangan daerah menjadi taruhannya. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: