Motorola Resmi Luncurkan Moto G17, Kebijakan Update Perangkat Lunak Tuai Kritik Tajam

Motorola Resmi Luncurkan Moto G17, Kebijakan Update Perangkat Lunak Tuai Kritik Tajam

Motorola Resmi Luncurkan Moto G17, Kebijakan Update Perangkat Lunak Tuai Kritik Tajam--gizmochina

radarpena.co.id - Langkah Motorola meluncurkan lini terbaru mereka, Moto G17, di pasar Eropa justru memicu gelombang kritik dari para pengamat teknologi. Alih-alih mendapatkan pujian karena spesifikasi perangkat kerasnya, ponsel ini justru menjadi sorotan negatif akibat kebijakan dukungan perangkat lunak yang perusahaan berikan sangat terbatas.

Motorola resmi memperkenalkan Moto G17 pekan lalu sebagai suksesor dari seri Moto G15. Namun, publik menilai perubahan yang produsen tawarkan sangat minim. Peningkatan paling mencolok hanya terletak pada sektor kamera depan yang kini mengusung resolusi 32MP. Di luar itu, spesifikasi teknis lainnya hampir tidak mengalami perubahan berarti dari generasi sebelumnya.

Dapur pacu Moto G17 masih mengandalkan chipset MediaTek Helio G81 Extreme. Yang paling mengecewakan bagi konsumen adalah sistem operasi yang tersemat di dalamnya. Motorola merilis ponsel ini dengan Android 15, sebuah sistem operasi yang pertama kali meluncur pada pertengahan 2024. Di awal tahun 2026 ini, perangkat lunak tersebut tentu terasa sudah ketinggalan satu generasi.

Masalah utama muncul saat melihat halaman produk resmi Motorola di Inggris. Perusahaan secara eksplisit hanya menjanjikan pembaruan keamanan selama dua tahun, yang akan berakhir pada awal 2028 mendatang. Namun, Motorola sama sekali tidak menyebutkan adanya rencana peningkatan versi Android (OS Upgrade) bagi para pengguna Moto G17.

BACA JUGA:Redmi Siapkan Tablet

BACA JUGA:Pencipta ChatGPT MENJERIT! Uang Rp16.719 Triliun Ludes dalam 18 Bulan, OpenAI di Ambang Kehancuran?

Motorola menggunakan dalih peraturan Ecodesign Uni Eropa untuk membenarkan kebijakan tersebut. Regulasi tersebut memang mewajibkan produsen menyediakan pembaruan keamanan dan perbaikan fungsionalitas selama beberapa tahun setelah produk berhenti dijual.

Namun, terdapat celah dalam aturan tersebut yang Motorola manfaatkan. Aturan Uni Eropa hanya mewajibkan pembaruan versi Android utama jika produsen memilih untuk menawarkannya sejak awal. Rumusan hukum yang longgar ini memungkinkan Motorola untuk mematuhi persyaratan legal tanpa harus memberikan pembaruan versi OS kepada konsumennya. Strategi ini mereka lakukan demi menekan biaya operasional di segmen ponsel murah (budget phone).

Pendekatan Motorola ini tentu mendapatkan respons pedas dari para kritikus teknologi. Pasalnya, para pesaing di segmen harga yang sama justru menawarkan dukungan yang jauh lebih loyal kepada konsumen.

Sebagai perbandingan, Samsung melalui lini Galaxy A17 menjanjikan pembaruan hingga enam versi Android bagi penggunanya. Sementara itu, Xiaomi dengan seri Redmi Note 15 menawarkan jaminan pembaruan OS selama empat tahun. Kebijakan Motorola yang hanya memberikan pembaruan keamanan tanpa kepastian peningkatan versi OS membuat Moto G17 terlihat kurang kompetitif di pasar global.

BACA JUGA:Siap Meluncur di Indonesia, Realme Note 80 Kantongi Sertifikasi TKDN

BACA JUGA:Gebrakan Realme Neo8: Flagship Perusak Harga dengan Snapdragon 8 Gen 5 dan Baterai 8000mAh

Dengan banderol harga sekitar £150 atau setara dengan Rp3 jutaan, Moto G17 sebenarnya masih menawarkan fitur dasar yang cukup layak. Ponsel ini memiliki layar berukuran besar, sertifikasi IP64 untuk perlindungan dari debu dan percikan air, serta kamera utama 50MP yang mumpuni untuk kebutuhan media sosial.

Meski demikian, Motorola seolah memaksa pembeli untuk menerima konsekuensi berupa dukungan jangka panjang yang sangat terbatas. Fenomena ini menyoroti adanya perpecahan strategi yang semakin nyata di segmen ponsel kelas bawah. Beberapa merek kini mulai menjadikan dukungan perangkat lunak jangka panjang sebagai standar layanan, sementara Motorola masih memperlakukannya sebagai fitur opsional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait