Nissan PHK 11 Ribu Karyawan dan Tutup 7 Pabriknya
Nissan Indonesia--nissan.co.id
JAKARTA, RADARPENA.CO.ID – Produsen otomotif asal Jepang, Nissan Motor Co. Ltd. mengumumkan kerugian bersih terbesar dalam dua dekade terakhir, dengan nilai mencapai Rp74,9 triliun pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025.
Kondisi ini disebabkan oleh penurunan tajam dalam penjualan kendaraan dan laba operasional yang merosot hingga 88 persen.
Kerugian ini menjadi yang terburuk sejak krisis keuangan yang melanda perusahaan pada awal tahun 2000, ketika Nissan berada di ambang kebangkrutan sebelum diselamatkan oleh Carlos Ghosn.
Dalam konferensi pers yang digelar awal pekan ini, CEO baru Nissan, Ivan Espinosa, memperkenalkan rencana restrukturisasi besar-besaran bertajuk Re:Nissan.
Inisiatif ini bertujuan untuk mengembalikan perusahaan ke jalur profitabilitas dalam jangka menengah, dengan target pemulihan operasional pada periode April 2026 hingga Maret 2027.
BACA JUGA:Dishub Jakarta Kaji dan Pelajari Usulan Bubarkan UPT Parkir
“Ini adalah keputusan yang sangat menyakitkan, tetapi penting untuk memastikan keberlangsungan bisnis Nissan ke depan,” ujar Ivan Espinosa, seperti dikutip dari Drive, Rabu (15/5).
PHK Karyawan dan Penutupan Pabrik
Sebagai bagian dari restrukturisasi, Nissan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 11.000 karyawan tambahan secara global, meliputi divisi penjualan, administrasi, riset dan pengembangan, serta manufaktur. Jumlah ini menambah total PHK yang telah diumumkan sebelumnya sebanyak 9.000 pekerja.
Selain itu, Nissan juga akan menutup tujuh pabrik hingga tahun fiskal 2027. Jumlah ini meningkat dari rencana awal penutupan tiga pabrik. Perusahaan belum merinci lokasi fasilitas yang akan ditutup.
Langkah lainnya termasuk pembatalan pembangunan pabrik baterai di Kyushu, Jepang, yang sebelumnya telah direncanakan sebagai bagian dari ekspansi kendaraan listrik.
BACA JUGA:Dibongkar di Persidangan, Budi Arie Setiadi Dapat 50% Persen Keuntungan Amankan Situs Judi Online
Pada tahun fiskal 2025, penjualan kendaraan Nissan tercatat menurun 2,8 persen, menjadi 3,35 juta unit. Sementara itu, laba operasional anjlok tajam ke angka Rp7,8 triliun, memperburuk kondisi keuangan perusahaan.
Untuk menekan biaya, Nissan menargetkan penghematan sebesar 500 miliar yen (sekitar Rp56,6 triliun). Strategi efisiensi lainnya meliputi:
- Pengurangan biaya riset dan pengembangan hingga 20 persen per jam
- Penyederhanaan suku cadang sebesar 70 persen
- Pengurangan jumlah platform kendaraan dari 13 menjadi 7 platform hingga tahun 2035
- Memangkas waktu pengembangan kendaraan dari 37 bulan menjadi 30 bulan
Sebelumnya, Nissan dilaporkan tengah menjajaki kerja sama strategis dengan Honda dan Mitsubishi. Namun, rencana tersebut dibatalkan di awal tahun ini, seiring fokus perusahaan yang beralih pada upaya restrukturisasi internal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: