Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem di Indonesia, BMKG: Lemahnya Monsun Australia

Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem di Indonesia, BMKG: Lemahnya Monsun Australia

Plt Kepala BMKG Dwikorita Karnawati -Dok BMKG-

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam sepekan ke depan.

Jabodetabek menjadi salah satu wilayah dengan risiko tertinggi terhadap hujan lebat hingga sangat lebat.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyampaikan dalam konferensi pers daring bahwa cuaca ekstrem sudah mulai terasa sejak beberapa hari terakhir.

Tercatat, hujan lebih dari 100 mm per hari—kategori lebat hingga sangat lebat—telah terjadi di Bogor, Mataram, hingga beberapa wilayah Sulawesi Selatan.

BACA JUGA:Banjir Jakarta Makin Meluas Rendam 100 RT, Ini Langkah yang Dilakukan Gubernur Pramono Anung

“Ini bukan hanya terjadi di Pulau Jawa, tetapi juga di berbagai wilayah lainnya. Dampaknya pun beragam, mulai dari banjir, longsor, hingga pohon tumbang,” tegas Dwikorita.

Wilayah-Wilayah yang Berpotensi Terdampak

BMKG memetakan sejumlah daerah yang berpotensi mengalami hujan lebat dalam waktu dekat, antara lain:

  • Jabodetabek
  • Jawa bagian barat dan tengah
  • Kalimantan Timur
  • Sulawesi Selatan dan sekitarnya
  • Nusa Tenggara Barat (termasuk Mataram)
  • Maluku bagian tengah
  • Papua bagian tengah dan utara

Dwikorita menambahkan, hujan sangat lebat diprediksi akan terus berlanjut, terutama di kawasan Puncak, Bogor, dengan intensitas lebih dari 150 mm per hari.

BACA JUGA:Gunung Lewotobi Erupsi Hebat, Kolom Abu Tembus Atmosfer hingga 18.000 Meter

Apa Penyebabnya?

Fenomena ini, kata Dwikorita, merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor atmosfer:

  • Lemahnya Monsun Australia
  • Suhu permukaan laut yang hangat → meningkatkan kelembapan udara
  • Aktivitas gelombang Kelvin di utara Jawa dan Laut Jawa
  • Belokan angin dan perlambatan di Jawa bagian barat dan selatan

Kondisi tersebut menciptakan atmosfer yang sangat labil, sehingga mempercepat pembentukan awan hujan.

“Ini menyebabkan pertumbuhan awan-awan hujan menjadi sangat cepat. Masyarakat harus tetap waspada,” ujarnya.

Menanggapi situasi ini, BMKG bersama BNPB dan BPBD DKI Jakarta langsung bergerak cepat. Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyampaikan bahwa operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) mulai diluncurkan hari ini hingga 11 Juli 2025.

“Kami masih dalam tahap persiapan teknis. Operasi ini bertujuan untuk mengurai potensi hujan ekstrem, khususnya di Jakarta dan sekitarnya,” ungkap Budi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait