Waspadai Tantrum pada Anak, Bisa Jadi Tanda Awal Gangguan Mental Serius

Waspadai Tantrum pada Anak, Bisa Jadi Tanda Awal Gangguan Mental Serius

Ilustrasi tantrum pada anak--family.abbott

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID — Tantrum kerap dianggap sebagai bagian normal dari tumbuh kembang anak.

Namun, para ahli kesehatan jiwa mengingatkan bahwa ledakan emosi yang terlalu intens dan terjadi berulang-ulang bisa menjadi sinyal awal gangguan mental serius, seperti gangguan bipolar dan skizofrenia.

Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K), Guru Besar Psikiatri Anak dan Remaja dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dalam sebuah pertemuan di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/5).

Menurut Prof. Tjhin, penting bagi orang tua dan tenaga pendidik untuk membedakan tantrum yang masih dalam batas normal dengan perilaku yang mengarah pada kondisi kejiwaan yang lebih serius.

BACA JUGA:Profil Fito Ditapradja, Komika Asal Malang yang Sebut Dedi Mulyadi 'Mulyono Sunda'

Ciri-Ciri Tantrum Normal vs Tanda Gangguan Mental

Tantrum normal, kata Prof. Tjhin, biasanya disebabkan oleh frustrasi, kelelahan, atau keinginan yang tidak terpenuhi.

Namun, jika tantrum disertai dengan gejala-gejala seperti perubahan perilaku drastis, kesulitan bersosialisasi, atau menarik diri dari lingkungan, maka perlu mendapat perhatian khusus.

"Kalau sudah sampai pada titik distress dan disability, artinya kondisi tersebut menimbulkan penderitaan dan mengganggu kemampuan fungsional anak, maka itu bisa jadi pertanda gangguan serius," jelas Prof. Tjhin.

Tanda Awal Gangguan Bipolar dan Skizofrenia pada Anak dan Remaja

Prof. Tjhin menjelaskan, gangguan bipolar dan skizofrenia sering kali ditandai dengan gejala-gejala seperti menarik diri dari lingkungan sosial, kesulitan bersekolah, serta gangguan dalam cara berpikir dan mengelola emosi.

BACA JUGA:Segini Harga dan Spesifikasi Lengkap Mobil Listrik BYD Seal yang Disorot Usai Terbakar di Palmerah

"Anak atau remaja dengan gangguan ini bisa mulai menunjukkan perilaku mengisolasi diri, tidak mampu berinteraksi sosial, dan kehilangan kemampuan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal," ujarnya.

Berbeda dengan perubahan perilaku akibat pubertas atau fluktuasi hormonal, anak-anak yang mengalami perubahan karena hormon biasanya masih dapat berprestasi, bersekolah, dan menjalin hubungan sosial dengan baik.

"Remaja dengan pengaruh hormonal masih bisa bersosialisasi dengan baik, tetap bersekolah, dan berprestasi. Tapi jika semua aspek itu mulai terganggu, maka sebaiknya dilakukan evaluasi lebih lanjut," tutup Prof. Tjhin.

Pentingnya Deteksi Dini

Para ahli menekankan pentingnya deteksi dini dalam menangani gangguan mental pada anak dan remaja.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait