DPRD Kota Bekasi Geram, Polder Kalimati Ditimbun Material Proyek SPAM

DPRD Kota Bekasi Geram, Polder Kalimati Ditimbun Material Proyek SPAM

Anggota DPRD Kota Bekasi, Samuel Sitompul, mengecam tindakan kontraktor proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Buaran PAM Jaya DKI Jakarta yang menimbun Polder Kalimati dengan material bekas galian.--ist

KOTA BEKASI, RADARPENA.CO.ID - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) KOTA BEKASI mengecam tindakan kontraktor proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Buaran PAM Jaya DKI Jakarta yang menimbun Polder Kalimati dengan material bekas galian.

Polder yang seharusnya berfungsi sebagai penampungan air justru berubah menjadi tempat pembuangan tanah urugan, sebuah tindakan yang dinilai tidak masuk akal dan berpotensi memperparah banjir di wilayah tersebut.

"Tidak ada logika yang membenarkan polder sebagai tempat pembuangan tanah urugan. Ini tidak boleh dibiarkan," tegas Anggota DPRD Kota Bekasi, Samuel Sitompul, usai meninjau lokasi. 

Samuel turun langsung setelah menerima laporan dari warga RW 024 Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur.

BACA JUGA:Pendatang Mau Cari Kerja di Bekasi? Ketua DPRD: Bawa Skill, Jangan Jadi Beban!

Ia pun segera berkoordinasi dengan lurah, camat, serta Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi.

Namun, yang mengejutkan, pemerintah setempat justru mengaku tidak mengetahui adanya aktivitas pembuangan material di polder tersebut.

Samuel menegaskan bahwa kontraktor proyek harus bertanggung jawab penuh dengan melakukan pengerukan ulang terhadap tanah yang telah dibuang ke polder.

"Saya akan mengawal penuh agar penggalian kembali dilakukan. Polder itu harusnya dikeruk, bukan malah ditimbun," ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa proyek ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), yang seharusnya sudah memiliki anggaran khusus untuk pembuangan material galian tanpa merusak infrastruktur yang ada.

BACA JUGA:Adhika Dirgantara: Warga Keluhkan Bangli tak Berizin di Sepanjang Unisma

Menurut laporan warga Perumahan Villa Kartini, setiap hari sekitar 10 truk besar mengangkut material galian menuju Polder Kalimati. Padahal, polder tersebut sering kali penuh hanya dalam waktu dua jam saat hujan deras.

Samuel mengingatkan bahwa jika kondisi ini dibiarkan, fungsi polder sebagai sarana mitigasi banjir bisa terganggu, sehingga memperparah genangan di kawasan sekitar.

"Kami tidak akan tinggal diam. Kontraktor harus bertanggung jawab dan pengerukan harus segera dilakukan," tegasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait