Serangan Rusia Tewaskan 21 Warga Sipil Ukraina, Gencatan Senjata Makin Jauh?

Serangan Rusia Tewaskan 21 Warga Sipil Ukraina, Gencatan Senjata Makin Jauh?

Rusia serang Ukraina hingga tewaskan 21 warga sipil saat usul gencatan senjata bergulir.--

radarpena.co.id - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengecam keras tindakan Moskow yang melancarkan rentetan serangan mematikan pada Selasa, 5 Mei 2026.

Serangan brutal Rusia tersebut menewaskan sedikitnya 21 orang di berbagai kota, tepat saat muncul pembahasan mengenai penghentian permusuhan sementara demi peringatan Hari Kemenangan 9 Mei.

Zelenskyy menyebut aksi ini sebagai bentuk "sinisme total". Menurutnya, Moskow justru meningkatkan intensitas teror tepat sebelum gencatan senjata yang diusulkan Ukraina mulai berlaku.

Tragedi Berdarah di Zaporizhzhia, Dnipro, dan Kramatorsk

Gempuran rudal dan drone Rusia menghantam titik-titik krusial di Ukraina Selatan dan Timur. Di Zaporizhzhia, wilayah yang berada dekat dengan garis depan, 12 orang kehilangan nyawa. Zelenskyy menegaskan bahwa serangan tersebut sama sekali tidak memiliki alasan atau pembenaran militer.

Kondisi serupa terjadi di wilayah lain:

  • Dnipro: Empat warga sipil tewas akibat ledakan yang terjadi sesaat sebelum tenggat waktu gencatan senjata.

  • Kramatorsk: Pusat kota yang menjadi benteng terakhir Ukraina di Donetsk ini luluh lantak. Lima warga sipil tewas di lokasi yang menjadi pusat aktivitas publik tersebut.

Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiga, melalui akun X miliknya menyatakan bahwa Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengakhiri permusuhan. Sebaliknya, Moskow justru memperluas skala serangan mereka.

"Taktik Kriminal" dan Serangan Ganda Rusia

Selain korban di pusat kota, kemarahan Kyiv memuncak akibat "serangan ganda" yang sangat keji di wilayah Poltava. Dua petugas pertolongan pertama dan dua karyawan perusahaan energi Naftogaz tewas saat menjalankan tugas.

Layanan darurat negara melaporkan bahwa militer Rusia sengaja menembakkan empat rudal tambahan ke lokasi yang sudah terkena drone sebelumnya. Taktik kriminal ini mengincar para petugas yang datang untuk menolong korban di lokasi ledakan.

Video yang beredar menunjukkan bola api besar melahap fasilitas energi tersebut tak lama setelah tim penyelamat tiba.

Dilema Parade 9 Mei dan Balasan Ukraina

Di sisi lain, Rusia bersiap menggelar parade patriotik Hari Kemenangan untuk memperingati kekalahan Nazi Jerman. Namun, perayaan tahun ini kabarnya akan berlangsung lebih sederhana tanpa pameran peralatan militer berat karena alasan keamanan. Moskow bahkan memutus jaringan internet seluler di ibu kota untuk mencegah potensi gangguan.

Ukraina sendiri telah meningkatkan serangan balasan jarak jauh ke fasilitas minyak dan infrastruktur Rusia. Pihak Kyiv menyebut aksi tersebut sebagai pembalasan yang adil atas pemboman tanpa henti terhadap kota-kota mereka.

Meskipun gencatan senjata jangka pendek sempat terjadi saat Paskah Ortodoks bulan lalu, prospek perdamaian permanen masih terlihat jauh. Hingga kini, Moskow tetap memberikan ultimatum agar Kyiv menarik penuh pasukannya, sebuah syarat yang dianggap Ukraina sebagai bentuk menyerah kalah.

"Kita membutuhkan keheningan dari serangan-serangan seperti itu dan semua serangan serupa lainnya setiap hari, bukan hanya beberapa jam di suatu tempat untuk 'perayaan'," tegas Zelenskyy.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: