Militer AS Blokade Selat Hormuz, China Minta Semua Pihak Tahan Diri Demi Stabilitas Global

Militer AS Blokade Selat Hormuz, China Minta Semua Pihak Tahan Diri Demi Stabilitas Global

China desak AS dan Iran menahan diri terkait blokade Selat Hormuz.--

radarpena.co.id - Pemerintah China secara resmi meminta semua pihak untuk menahan diri dan tetap tenang, menyusul ancaman Presiden AS, Donald Trump, yang akan memblokade Selat Hormuz.

Ketegangan ini memuncak setelah perundingan damai di Islamabad yang bertujuan mengakhiri perang Iran menemui jalan buntu pada akhir pekan lalu.

Langkah Amerika Serikat ini memicu kekhawatiran besar, mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.

Bagi China sendiri, stabilitas jalur laut ini sangat krusial karena mereka merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia yang sebelumnya menyerap sebagian besar ekspor energi dari Iran.

Menjaga Jalur Air Tetap Terbuka untuk Kepentingan Dunia

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa keamanan dan kelancaran navigasi di Selat Hormuz adalah kepentingan seluruh komunitas internasional. Dalam konferensi pers reguler pada Senin, 13 April 2026, Beijing menekankan pentingnya jalur diplomatik dibandingkan angkat senjata.

"China berharap pihak-pihak terkait akan mematuhi pengaturan gencatan senjata sementara, tetap berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan melalui cara politik dan diplomatik, dan menghindari dimulainya kembali permusuhan," ujar Guo Jiakun.

Pemerintah China menyatakan kesiapannya untuk memainkan peran positif dan konstruktif guna memadamkan krisis ini. Mereka memandang bahwa dialog di ibu kota Pakistan sebenarnya sudah menjadi langkah awal yang baik untuk meredakan tensi konflik.

Ancaman Blokade Militer AS Mulai Berlaku Senin

Meskipun China menyerukan perdamaian, Komando Pusat AS tetap bergerak maju dengan rencana militer mereka. Pasukan Amerika Serikat mengumumkan akan memulai blokade total terhadap seluruh lalu lintas maritim yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Operasi ini dijadwalkan mulai berlaku pada Senin pukul 10 pagi ET atau pukul 22.00 waktu Singapura.

Di sisi lain, China bersama Pakistan tetap konsisten mendukung upaya perdamaian yang sudah mereka rintis sejak Maret lalu. Kedua negara ini mendesak adanya gencatan senjata segera agar aktivitas navigasi di kawasan Teluk bisa kembali normal.

China Bantah Tuduhan Pasokan Senjata ke Iran

Di tengah situasi yang memanas, muncul laporan yang menyebutkan bahwa Beijing berencana mengirimkan bantuan militer ke Iran. Namun, Guo Jiakun dengan tegas membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai upaya diskreditasi terhadap China.

"China secara konsisten mengambil pendekatan yang bijaksana dan bertanggung jawab terhadap ekspor senjata," tegas Guo. Ia menambahkan bahwa tuduhan tersebut hanyalah "fitnah tanpa dasar dan asosiasi jahat" yang tidak sesuai dengan hukum domestik maupun kewajiban internasional mereka.

Isu pasokan senjata ini menjadi sensitif setelah Trump mengancam akan menjatuhkan tarif impor langsung sebesar 50 persen bagi negara mana pun yang nekat membantu militer Iran. Hingga saat ini, China memastikan bahwa kontrol ekspor mereka tetap ketat dan transparan sesuai regulasi global.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait