Fenomena Joki Strava: Olahraga Demi Gengsi, Cara Cepat Hasilkan Ratusan Ribu Rupiah
Fenomena joki Strava memperlihatkan ironi era digital: olahraga yang seharusnya menyehatkan, justru dijadikan alat pencitraan. Di tengah tekanan sosial untuk tampil aktif dan sehat, sebagian orang memilih jalan pintas dengan menyewa tenaga orang lain.--
Radarpena.co.id, Jakarta – Aplikasi olahraga Strava kini tak hanya jadi alat pelacak aktivitas lari atau bersepeda, tapi juga ajang pamer pencapaian.
Di tengah maraknya budaya "flexing" digital, muncul tren baru: joki Strava, yakni jasa menyewa orang lain untuk berlari atau bersepeda demi mencatatkan aktivitas olahraga atas nama penyewa.
Tren ini tengah viral di media sosial dan memicu berbagai reaksi, dari yang geli, heran, hingga prihatin.
Apa Itu Joki Strava?
Joki Strava adalah praktik menyewa seseorang untuk menjalankan aktivitas olahraga seperti lari atau gowes, lalu mencatatnya melalui aplikasi Strava milik penyewa.
Hasilnya? Orang yang menyewa terlihat aktif dan rajin olahraga di mata pengikutnya meskipun dia sendiri tak berkeringat sedikit pun.
Tarif dan Mekanisme Jasa
Tarif joki bervariasi, tergantung jarak dan kesulitan lari:
- Rp 5.000 – 7.000 per kilometer untuk lari biasa.
- Bisa naik menjadi Rp 20.000/km untuk rute menantang seperti tanjakan atau target pace di bawah 5 menit/km.
- Seorang joki di Jakarta bahkan mengaku bisa meraup Rp 300 ribu dalam satu sesi lari saat Car Free Day.
- Pemesanan biasanya dilakukan via media sosial atau grup WhatsApp komunitas lari.
Mengapa Orang Menyewa Joki?
Psikolog dan pengamat budaya menyebut bahwa fenomena ini lahir dari dorongan gengsi dan kebutuhan akan validasi sosial. Di era digital, unggahan tentang gaya hidup sehat dianggap sebagai simbol status dan kedisiplinan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: