Lagu Galau Selalu Jadi Jawara di Chart Musik Indonesia? Ini Alasannya

Lagu Galau Selalu Jadi Jawara di Chart Musik Indonesia? Ini Alasannya

Ilustrasi mendengarkan lagu galau yang selalu jadi jawara di chart musik Indonesia.--pexels.com/Ivan Samkov

JAKARTA, RADARPENA.CO.ID - Lagu galau atau musik bernuansa sedih memang tidak pernah kehilangan penggemar, terutama di Indonesia. 

Bahkan, dari berbagai platform streaming seperti Spotify, Apple Music, hingga YouTube Music, lagu galau atau lagu bertema patah hati, kehilangan, atau cinta tak sampai justru kerap menempati posisi teratas dalam tangga lagu. 

Mengapa fenomena ini terus terjadi? Kenapa lagu galau selalu jadi jawara di chart musik Indonesia?

Salah satu penyebab utamanya adalah peralihan industri musik dari fisik ke digital. Sejak toko kaset dan CD mulai hilang pada awal 2010-an, platform streaming mulai mendominasi cara masyarakat menikmati musik. 

Kehadiran Spotify (2016), YouTube Music (2019), hingga Resso (2020), membawa kembali konsep chart musik digital di Indonesia yang berdasarkan angka streaming dan engagement.

BACA JUGA:

Melalui data Spotify pada 24 Juni 2025, terlihat bahwa lima dari sepuluh lagu teratas merupakan lagu-lagu galau. Lagu Mangu dari Fourtwnty dan Charita Utami yang berkisah tentang perbedaan keyakinan dalam hubungan, menduduki posisi pertama. 

Sementara lagu-lagu lain seperti Bergema Sampai Selamanya (Nadhif Basalamah) dan Serana (For Revenge) juga membawa nuansa emosional yang kuat, dan tetap bertahan di chart.

Secara ilmiah, dominasi lagu sedih ini memiliki dasar psikologis yang cukup kuat. Menurut Annemieke J.M. van den Tol, peneliti dari School of Psychology, De Montfort University, musik galau memiliki fungsi penting bagi pendengarnya, seperti memvalidasi perasaan, memberi rasa nyaman, serta menjadi sarana refleksi dan relaksasi.

Dalam jurnal The Arts in Psychotherapy (2016), van den Tol mengungkap bahwa orang lebih cenderung mendengarkan musik sedih ketika sedang mengalami emosi negatif. 

Musik seperti ini memberikan efek penghiburan dan bisa membantu proses penerimaan atas kejadian buruk yang dialami seseorang.

BACA JUGA:

Senada dengan itu, Michael Bonshor, pakar psikologi musik yang bekerja sama dengan Spotify, menyebutkan bahwa generasi muda terutama Gen Z cenderung lebih sadar emosinya. 

Mereka tidak hanya menggunakan musik sebagai hiburan, tapi juga sebagai sarana untuk mengelola suasana hati mereka. Musik galau, dengan melodi lambat dan lirik yang menyentuh, memberi efek katarsis dan rasa "dipahami".

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait