Menanggapi Kontroversi Drama Malaysia Bidaah: Walid si Pengumbar Kepalsuan dan Janji Surga
Drama Bidaah--
Anastasia menekankan pentingnya literasi, edukasi, dan kemampuan berpikir kritis agar seseorang tidak mudah terjebak dalam manipulasi berkedok agama.
"Harus berpikir kritis dalam menjalani kehidupan beragama. Pastikan untuk belajar, tidak melulu ke satu orang, tapi bisa secara merata dari lingkungan terdekat atau orang yang dipercaya," katanya.
Selain itu, ia menyarankan agar individu terbuka untuk berdiskusi dan menerima masukan dari orang-orang terdekat.
"Harus juga terbuka untuk berdiskusi dan menerima masukan dari orang terdekat, khususnya apa yang dialami dan diterima. Apakah itu pantas atau layak tidak," sambungnya.
Kesadaran Diri dan Keberanian untuk Speak Up
Menurut Anastasia, salah satu tantangan terbesar adalah banyaknya korban yang tidak menyadari bahwa mereka telah dimanipulasi. Perilaku tidak nyaman seperti pelecehan atau pemaksaan sering kali dimaknai secara keliru sebagai bentuk cinta.
"Biasakan untuk berani speak up pada orang terdekat. Jangan hanya diterima atau diberikan teori bahwa ini dia sayang, artinya saya spesial, artinya aku dipilih seperti doktrin yang sudah masuk di kepala," ucapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mencari sudut pandang kedua atau ketiga dalam menilai suatu situasi.
"Ada second opinion atau third opinion. Banyak sekali orang manipulatif di luar sana, dari segi perilaku dan penampilan. Di tempat saya banyak ditemukan kejadian seperti dicampur aduknya nilai agama untuk pembenaran, dengan tujuan memenuhi hasratnya saja," imbuh Anastasia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: